Abad ke-20, Peran Sarekat Islam sebagai Mediator Perkecuan di Surakarta

Kamis, 27 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perhimpunan Sarekat Islam di Kaliwungu, Semarang sekitar tahun 1921. (foto. By.Wikimedia Commons)

Perhimpunan Sarekat Islam di Kaliwungu, Semarang sekitar tahun 1921. (foto. By.Wikimedia Commons)

Javanetwork.co.id – Kecemburuan sosial antara etnis Cina dengan kaum bumiputera memuncak saat Belanda menguasai Jawa. Perkecuan menjadi kriminalitas yang menjamur di masyarakat pada abad ke-20.

Perkecuan berasal dari kata kecu, yang merujuk pada tindakan premanisme atau pencurian, di mana tindakannya cenderung memaksa, menyiksa, hingga membunuh korbannya.

Perkecuan sebelumnya pernah berkembang pesat di kawasan perkebunan Klaten yang buruh dan petaninya mengalami krisis ekonomi sejak tahun 1870-an, yang kemudian menyebar hampir di seluruh wilayah karesidenan.

Memasuki abad ke-20, kecu mulai menjadi tindak kriminal yang lahir dari sentimen rasial antara etnis Jawa dan Cina.

“Etnis Tionghoa selama ratusan tahun dijadikan alat oleh kolonial Belanda untuk menjadi mesin penghasil uang yang sangat efektif,” ungkap Rahmana dalam tulisannya.

Baca Juga :  Inilah Daftar Nama Media Daerah Dan Nasional Yang Tergabung Dalam Fast Respon Nusantara (FRN)

Siti Rahmana menulis pada Jurnal Sejarah Peradaban Islam (JUSPI). Jurnalnya berjudul Sarekat Islam: Mediasi Perkecuan di Surakarta Awal Abad ke-20, publikasi 2018.

Kebijakan Belanda yang lebih banyak mengandalkan tenaga etnis Cina, memunculkan sentimen rasial di masyarakat. Sedangkan, kaum bumiputera hanya diperah dan dimanfaatkan tenaganya, dibiarkan menderita oleh kebijakan Hindia-Belanda.

Adanya kesenjangan sosial memunculkan gelombang protes kaum bumiputera. Tindakan protes kaum bumiputera secara radikal diwujudkan dengan tindak perkecuan yang marak memasuki awal abad ke-20.

Menurut Rahmana, perkecuan yang mengkhawatirkan, mendorong dibentuknya kelompok ronda Rekso Roemekso yang diprakarsai oleh para pedagang batik di Laweyan.

Baca Juga :  Ini Kata Kabareskrim Mabes Polri Mengenai Peringatan Nuzulul Qur'an 1443 H

“Pada perkembangan selanjutnya, kelompok ronda Rekso Roemekso diarahkan menjadi organisasi sosial-ekonomi, yang diberi nama Sarekat Dagang Islam (SDI),” imbuh Siti Rahmana.

Organisasi ini bertujuan untuk mewadahi kaum bumiputera agar dapat bersaing dengan sikap monopoli pedagang etnis Cina, hingga Sarekat Dagang Islam bertransformasi menjadi Sarekat Islam (SI).

Prinsip Sarekat Islam untuk bertahan secara sosial-ekonomi di tengah krisis, melibatkan sejumlah kalangan, seperti halnya buruh dan petani. Tujuan utamanya mengarah pada meredam perkecuan yang meresahkan.

“Sarekat Islam diharapkan mampu menjadi tempat penyalur cita-cita atas perbaikan kesejahteraan hidup di tengah-tengah keterpurukan sosial-ekonomi saat itu, serta berjuang merebut kembali hak-hak kaum pribumi yang dirampas oleh kolonial Belanda” lanjutnya.

Baca Juga :  Soal Khilafatul Muslimin, Peace Generation : Harus Buat Tandingan Lawan Ideologi Non-Pancasila

Baca Juga: Perkecuan di Klaten Akibat Krisis Petani Perkebunan Belanda Sejak 1875

Keseragaman tujuan beriringan dengan kesamaan nasib, menjadi pengikat kaum bumiputera untuk berjuang bersama Sarekat Islam. Istilah ‘kepentingan bersama’ menjadi tujuan yang digaungkan.

Bukan malah menuju perkecuan, kaum petani dan buruh yang lama terlibat sebagai kecu, disibukkan dengan kepentingan politis, menggelorakan semangat untuk merengkuh kembali hak-haknya.

“Kepentingan bersama, bersatu untuk bersama-sama membela hak bumiputera dari kolonial Belanda, merupakan bagian dari proses pencarian identitas Keindonesiaan kaum pribumi,” tutup Siti Rahmana. (*)

Berita Terkait

Kisah Annisa Syakina, Dosen Muda yang Membuktikan Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya
Pancasila 1 Juni: Menagih Tanggung Jawab Sejarah Kaum Marhaenis
Guru SMAN 1 Gayam Raih Juara 1 Lomba Esai Hardiknas 2026, Angkat Gagasan Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu
PMII Genap 66 Tahun, Teguhkan Peran sebagai Kekuatan Intelektual dan Pilar Peradaban Bangsa
Saat Darah Lebih Kental dari Rantau: Makna Filosofis Tradisi Toron
Menjadi Kuat Bukan Pilihan, Tapi Keharusan
Haul Sultan Abdurrahman dan Urgensi Penyelamatan Arsip Keraton Sumenep
Rahasia malem Jum’at/Jum’at Dibudinah: Jejak Sunyi Leluhur Menyambut Ramadan

Berita Terkait

Kamis, 18 Juni 2026 - 11:00 WIB

Kisah Annisa Syakina, Dosen Muda yang Membuktikan Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya

Senin, 1 Juni 2026 - 08:13 WIB

Pancasila 1 Juni: Menagih Tanggung Jawab Sejarah Kaum Marhaenis

Senin, 11 Mei 2026 - 19:07 WIB

Guru SMAN 1 Gayam Raih Juara 1 Lomba Esai Hardiknas 2026, Angkat Gagasan Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu

Jumat, 17 April 2026 - 15:46 WIB

PMII Genap 66 Tahun, Teguhkan Peran sebagai Kekuatan Intelektual dan Pilar Peradaban Bangsa

Kamis, 16 April 2026 - 15:49 WIB

Saat Darah Lebih Kental dari Rantau: Makna Filosofis Tradisi Toron

Berita Terbaru