Saat Darah Lebih Kental dari Rantau: Makna Filosofis Tradisi Toron

- Redaksi

Kamis, 16 April 2026 - 15:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Sumenep

Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Sumenep

Mata’ lanjheng kek pekkeren
Jheng bejhengan esanggu dikah
Mole arantau dari penggihiran
Moghe salamet sampe’ e dhishah

JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Toron adalah tradisi mudik atau kembalinya masyarakat Madura putra pulang ke kampung halaman dari perantauan, yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan dan religiusitas. Tradisi ini umumnya terjadi saat Idul Fitri, namun mencapai puncaknya pada Idul Adha (Lebaran Haji, Tellasan Rajhe) maupun Maulid Nabi. Secara harfiah, toron berarti perantau yang kembali ke tanah kelahiran. Istilah ini bahkan sudah dikenal jauh sebelum abad ke-19, menjadi bukti sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Majapahit.

Baca Juga :  PSNU Pagar Nusa Konsolidasikan Kekuatan, Konferensi PAC Disosialisasikan Lewat Latihan Bersama Lintas Wilayah

Secara filosofis, toron memiliki istilah yang berlawanan, yaitu onggha atau naik. Jika onggha bermakna merantau, maka toron adalah proses kembali ke kampung halaman. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun di kalangan etnis Madura yang merantau dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Pulau Madura.

Budaya toron tidak hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini biasanya terjadi pada hari-hari besar keagamaan maupun saat ada acara keluarga di kampung halaman, seperti pernikahan, kematian, umrah, maupun haji. Para perantau pulang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk menghadiri acara-acara penting yang membutuhkan kehadiran langsung orang yang memiliki kepentingan di tanah asal.

Baca Juga :  Ponpes Hidayatul Ulum Gadu Barat Gelar Seminar Bertajuk " Upaya Mencegah Pernikahan Dini : Harapan dan Tantangan

Bagi masyarakat Madura, pulang kampung atau toron bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan jiwa yang mengikat kembali hubungan dengan leluhur, keluarga, dan tanah kelahiran. Di sinilah letak makna mendalamnya: bahwa ikatan darah dan tanah air jauh lebih kuat daripada segala hal yang didapat di perantauan.

Penulis : Fathor Arifin.,M.Pd., Kamis (16/04/2026)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi
Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini
Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga

BERITA TERKAIT

Rabu, 16 September 2026 - 08:22 WIB

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi

Minggu, 13 September 2026 - 23:59 WIB

Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

BERITA TERBARU