Mata’ lanjheng kek pekkeren
Jheng bejhengan esanggu dikah
Mole arantau dari penggihiran
Moghe salamet sampe’ e dhishah
JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Toron adalah tradisi mudik atau kembalinya masyarakat Madura putra pulang ke kampung halaman dari perantauan, yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan dan religiusitas. Tradisi ini umumnya terjadi saat Idul Fitri, namun mencapai puncaknya pada Idul Adha (Lebaran Haji, Tellasan Rajhe) maupun Maulid Nabi. Secara harfiah, toron berarti perantau yang kembali ke tanah kelahiran. Istilah ini bahkan sudah dikenal jauh sebelum abad ke-19, menjadi bukti sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Majapahit.
Secara filosofis, toron memiliki istilah yang berlawanan, yaitu onggha atau naik. Jika onggha bermakna merantau, maka toron adalah proses kembali ke kampung halaman. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun di kalangan etnis Madura yang merantau dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Pulau Madura.
Budaya toron tidak hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini biasanya terjadi pada hari-hari besar keagamaan maupun saat ada acara keluarga di kampung halaman, seperti pernikahan, kematian, umrah, maupun haji. Para perantau pulang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk menghadiri acara-acara penting yang membutuhkan kehadiran langsung orang yang memiliki kepentingan di tanah asal.
Bagi masyarakat Madura, pulang kampung atau toron bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan jiwa yang mengikat kembali hubungan dengan leluhur, keluarga, dan tanah kelahiran. Di sinilah letak makna mendalamnya: bahwa ikatan darah dan tanah air jauh lebih kuat daripada segala hal yang didapat di perantauan.
Penulis : Fathor Arifin.,M.Pd., Kamis (16/04/2026)












