JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Peredaran narkotika di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep, Madura, kian mengkhawatirkan. Kondisi geografis yang terdiri dari ratusan pulau dinilai menjadi celah strategis bagi masuknya barang haram melalui jalur laut.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sumenep, Moh. Zeinuddin, menegaskan bahwa luasnya wilayah yang terpisah oleh lautan serta lemahnya pengawasan menjadi faktor utama maraknya peredaran narkoba di kawasan tersebut.
Sepanjang tahun 2025, aparat penegak hukum tercatat mengamankan sekitar 52 kilogram sabu di wilayah Kepulauan Masalembu.
Temuan ini menjadi indikasi kuat bahwa jalur kepulauan Sumenep telah lama menjadi incaran jaringan narkotika.
Memasuki tahun 2026, situasi semakin mengkhawatirkan. Publik kembali dihebohkan dengan temuan bungkusan mencurigakan yang diduga kokain seberat 27,83 kilogram di Pulau Giligenteng.
Menanggapi hal tersebut, Moh. Zeinuddin menyebutnya sebagai peringatan keras bagi aparat penegak hukum dan masyarakat luas.
“Ini alarm yang sangat serius bagi penegakan hukum kita dan ketahanan sosial masyarakat kita. Saya menganggap ini bukan hanya kejahatan biasa, ini adalah kejahatan yang terorganisir kalau dilihat dari modusnya,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Ia juga menyoroti lemahnya sistem pengawasan dan intelijen yang dinilai masih belum optimal dalam mengantisipasi masuknya narkotika melalui jalur laut.
“Jujur, dengan berulangnya ini, ini bukti bahwa dari sisi pengawasan kita lemah, kita kebobolan lagi,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa langkah konkret dan terintegrasi, jaringan narkotika akan terus memanfaatkan celah geografis wilayah kepulauan.
Oleh karena itu, PDM Sumenep mendorong penguatan pengawasan laut, peningkatan kapasitas intelijen, serta sinergi lintas sektor antara aparat penegak hukum dan masyarakat.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa penindakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan semata, melainkan harus mampu menembus hingga ke jaringan utama, termasuk bandar dan pengendali di balik peredaran narkotika tersebut.
Selain langkah represif, upaya preventif juga dinilai tak kalah penting. Edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, terutama di desa-desa dan wilayah kepulauan terpencil, harus diperkuat agar masyarakat memiliki kesadaran dan daya tangkal terhadap bahaya narkoba.
“Wilayah kepulauan kita sangat rentan. Tanpa pengawasan yang ketat dan keterlibatan semua pihak, jaringan narkotika akan terus berkembang. Ini harus menjadi perhatian bersama,” pungkasnya. (REDJAVA****)












