JAVANETWORK.CO.ID.ESSAI – Ada suasana yang berbeda ketika Jumat terakhir menjelang Ramadan tiba di Sumenep.
Langkah-langkah pelan menuju pemakaman, tabur bunga yang jatuh perlahan di atas pusara, dan lantunan doa yang lirih semuanya menghadirkan kesan batin yang mendalam.
Inilah Jumat di Dibudinah, tradisi yang bukan sekadar ziarah, melainkan perjalanan batin menembus batas antara ingatan, doa, dan harapan.
Bagi masyarakat Madura, makam bukan hanya tempat bersemayamnya jasad. Ia adalah ruang hening, tempat kenangan tinggal, tempat nama-nama yang pernah hidup tetap dipanggil dalam doa.
Di sanalah hubungan yang tampak terputus oleh kematian justru terasa kembali dekat. Seakan ada bisikan halus yang mengingatkan: hidup hanyalah persinggahan.
Tradisi ini menyimpan dimensi spiritual yang dalam. Ketika tangan membersihkan nisan dan hati melafalkan doa, sesungguhnya yang dibersihkan bukan hanya pusara, melainkan juga jiwa. Jum’at Dibudinah menjadi cermin, menghadirkan kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali pada tanah yang sama.
Bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang menundukkan ego dan menyucikan batin.
Ada pula nuansa misteri yang tak terucap, namun dirasakan. Heningnya makam menjelang senja, aroma bunga yang menyatu dengan tanah basah, dan doa-doa yang menggema pelan di antara batu nisan menghadirkan rasa takzim.
Seakan ruang dan waktu melambat, memberi kesempatan pada manusia untuk merenungi asal-usul dan akhirnya.
Di tengah modernitas yang sering melupakan akar, Jum’at di Dibudinah tetap hidup sebagai warisan leluhur yang sarat makna.
Ia tidak gaduh, tidak pula gemerlap. Namun justru dalam kesederhanaannya, tersimpan kekuatan spiritual yang menjaga keseimbangan antara yang hidup dan yang telah tiada.
Rahasia tradisi ini bukan pada ritualnya semata, melainkan pada kesadaran kolektif masyarakat Sumenep untuk tidak memutus mata rantai doa.
Sebab selama nama-nama leluhur masih disebut, selama pusara masih diziarahi, selama doa masih dipanjatkan, maka hubungan itu tak pernah benar-benar berakhir.
Dan mungkin di situlah letak misteri Jum’at Dibudinah bahwa dalam diamnya makam, ada kehidupan yang terus berlanjut dalam ingatan dan doa. (REDJAVA/$$$$)
Penulis : Oleh R. Dwi Febriyan Kromoadirono, Kamis (12/02/2026)












