JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dongeng tak lagi sekadar hiburan bagi anak. Cerita yang dikemas menarik dapat menjadi media pendidikan untuk menanamkan karakter sejak usia dini.
Gagasan itu mengemuka dalam Pelatihan Mendongeng 2026 yang digelar Rumah Cerita Okara sebagai bagian dari rangkaian Festival Dongeng Madura 2026 di Sumenep.
Pelatihan tersebut menyasar guru PAUD, khususnya Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak. Kegiatan berlangsung di Kampus Universitas PGRI Sumenep, Minggu (13/9/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Rumah Cerita Okara Sumenep, Avan Fathurrahman, mengatakan dongeng memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan pendidikan dengan cara yang dekat dengan dunia anak.
“Dongeng bukan hanya cerita. Di dalamnya ada nilai kejujuran, keberanian, kepedulian, dan karakter baik yang bisa ditanamkan kepada anak sejak dini,” ujarnya.
Menurut Avan, kemampuan guru dalam bercerita perlu terus dikembangkan. Penyampaian yang kreatif membuat anak lebih mudah memahami pesan tanpa merasa sedang menerima pelajaran.
Ia berharap pelatihan tersebut menjadi awal gerakan mendongeng yang lebih luas. Guru yang telah mengikuti kegiatan diharapkan mampu membawa pengalaman itu ke ruang kelas masing-masing.
“Kami ingin pelatihan ini melahirkan guru yang mampu bercerita secara kreatif, sehingga dongeng menjadi bagian dari pembelajaran dan membentuk karakter anak,” kata Avan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Guru dan Ketenagaan Disdik Sumenep, Akhmad Fairusi, S.Pd., M.AP., hadir mewakili Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep.
Dirinya menilai dongeng dapat menjadi salah satu instrumen pendidikan karakter. Pesan moral akan lebih mudah diterima anak ketika disampaikan melalui cerita dan tokoh yang mereka kenal.
“Tokoh dalam dongeng bisa menjadi teladan bagi anak. Dari karakter tokoh itu, anak belajar tentang sikap baik yang dapat memotivasi dirinya,” kata Kabid GTK Akhmad Fairusi.
Menurut dia, pengembangan keterampilan mendongeng dan membuat buku cerita seharusnya tidak berhenti di jenjang PAUD. Program serupa perlu diperluas ke sekolah lain.
“Pelatihan mendongeng dan membuat buku cerita jangan hanya untuk guru PAUD. Guru SD dan SMP juga perlu mendapat kesempatan mengembangkan kemampuan tersebut,” jelasnya.
Fairus juga mendorong agar lomba mendongeng memiliki cakupan peserta yang lebih luas. Bukan hanya guru dan siswa TK, tetapi juga guru serta murid SD dan SMP.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membuka ruang kreativitas sekaligus menemukan bibit pendongeng muda. Sekolah juga dapat menjadikan lomba sebagai bagian dari penguatan literasi.
“Lomba mendongeng perlu diperluas. Guru dan siswa SD maupun SMP juga dapat dilibatkan agar budaya literasi tumbuh di semua jenjang pendidikan,” pungkas Fairus sapaan akrabnya.
Tak kalah penting, ilmu yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Peserta dapat menularkan keterampilan kepada guru lain di sekolahnya.
Dengan pola tersebut, manfaat pelatihan dapat menjangkau lebih banyak pendidik. Dampaknya pun diharapkan terasa pada proses belajar dan pembentukan karakter peserta didik.
Rumah Cerita Okara berharap Festival Dongeng Madura 2026 tidak berhenti sebagai sebuah agenda. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi gerakan pendidikan berbasis cerita.








