JAVANETWORK.CO.ID.JAKARTA – PDIP Bantah Tunggangi Aksi Mahasiswa Tolak MBG, Said Abdullah: Mahasiswa Tidak Bisa Diperintah Siapa Pun
Jakarta – PDI Perjuangan (PDIP) membantah keras tudingan yang menyebut partai berlambang banteng moncong putih itu berada di balik gelombang aksi demonstrasi mahasiswa yang menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penegasan tersebut disampaikan Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI sekaligus Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Said Abdullah, menyusul munculnya tudingan dari Aliansi BEM Bersatu yang mengaitkan partainya dengan aksi penolakan MBG yang dipimpin mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.
Menurut Said, PDIP sama sekali tidak memiliki keterlibatan dalam aksi-aksi mahasiswa tersebut, baik melalui struktur partai, kader, maupun anggota.
“PDI Perjuangan tidak pernah menggerakkan, mengorganisir, atau mengarahkan demonstrasi mahasiswa. Tidak ada kader maupun anggota partai yang ditugaskan atau dilibatkan dalam aksi tersebut,” kata Said kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (17/6).
Politisi asal Sumenep itu menegaskan sikap itu sejalan dengan arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang meminta seluruh kader partai untuk tidak ikut campur dalam berbagai aksi demonstrasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia menilai sejumlah pihak terlalu jauh mengaitkan berbagai dinamika politik dengan PDIP hanya karena adanya hubungan personal atau kedekatan individu tertentu dengan tokoh partai.
Menurutnya, asumsi semacam itu tidak memiliki dasar yang kuat dan berpotensi menyesatkan opini publik.
Sebelumnya, Aliansi BEM Bersatu menyoroti dugaan kedekatan Tiyo Ardianto dengan sejumlah figur yang pernah terlibat dalam lingkaran politik PDIP.
Salah satu isu yang mencuat adalah penggunaan kendaraan yang disebut terdaftar atas nama keluarga yang memiliki hubungan dengan mantan Panglima TNI, Andika Perkasa.
Namun, Said Abdullah menilai hubungan kekeluargaan tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya keterlibatan institusional PDIP dalam gerakan mahasiswa.
“Hubungan keluarga, pertemanan, atau kedekatan personal adalah hal yang berbeda dengan kebijakan dan sikap resmi partai. Tidak bisa kemudian langsung disimpulkan bahwa aksi mahasiswa digerakkan oleh PDIP,” ujarnya.
Lebih jauh, Said menilai mahasiswa merupakan kelompok yang memiliki independensi dan daya kritis yang kuat sehingga tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan politik tertentu.
Dirinya menegaskan bahwa gerakan mahasiswa lahir dari kegelisahan dan pandangan mereka sendiri terhadap berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.
“Mahasiswa memiliki idealisme. Mereka bukan kelompok yang bisa diperintah oleh partai politik mana pun untuk turun ke jalan. Karena itu tuduhan bahwa PDIP menggerakkan mahasiswa menurut saya tidak berdasar,” tegasnya.
Meski membantah keterlibatan PDIP, Said justru mengingatkan pemerintah agar tidak menutup diri terhadap berbagai kritik yang disampaikan mahasiswa.
Menurutnya, demonstrasi merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang harus dihormati selama dilakukan secara damai dan sesuai aturan.
Ia menilai sejumlah kritik yang muncul, termasuk terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis dan tata kelola anggaran Badan Gizi Nasional (BGN), patut dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas kebijakan pemerintah.
“Pemerintah perlu menjadi pendengar yang baik. Aspirasi mahasiswa harus didengar dan dijadikan masukan agar kebijakan yang diambil semakin tepat sasaran,” tuturnya.
Said juga melihat adanya langkah perbaikan yang mulai dilakukan pemerintah, terutama melalui konsolidasi internal dan pemetaan ulang anggaran pada sejumlah program strategis nasional.
Menurut dia, respons tersebut menunjukkan bahwa kritik publik telah mendapat perhatian dari pemerintah, meski komunikasi kepada masyarakat masih perlu diperkuat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Yang penting sekarang adalah bagaimana hasil evaluasi dan perbaikan itu bisa dikomunikasikan secara terbuka kepada masyarakat sehingga publik mengetahui bahwa setiap masukan benar-benar ditindaklanjuti,” pungkas Said Abdullah. (REDJAVA****)












