JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menggerus nilai-nilai budaya lokal, Yayasan Ghayatul Anwar memilih menghadirkan sesuatu yang berbeda.
Melalui Haflatul Imtihan Ghayatul Anwar (HIMAGHA) ke-33 Tahun 2026, lembaga pendidikan tersebut mengusung tema “Merawat Tradisi, Membangun Generasi” dengan menghadirkan prosesi penyalaan 1.000 dhamar kambang dan tabur beras kuning sebagai simbol pembukaan acara.
Kegiatan pembukaan HIMAGHA 33 tersebut berlangsung di Desa Banuaju Barat, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Selasa (16/06/2026) malam, dan dihadiri oleh seluruh elemen lembaga, mulai dari santri, dewan guru, pengurus yayasan, alumni hingga tokoh masyarakat setempat.
Tradisi yang sarat makna itu menjadi penanda dimulainya rangkaian HIMAGHA 33 yang melibatkan seluruh santri, dewan guru, pengurus yayasan, alumni, hingga tokoh masyarakat.
Cahaya dari ribuan dhamar kambang menjadi simbol harapan, ilmu pengetahuan, dan semangat yang terus menyala untuk menerangi masa depan generasi muda.
Tak sekadar seremoni, konsep tersebut menjadi upaya nyata Yayasan Ghayatul Anwar dalam menjaga warisan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Perpaduan antara nilai tradisi dan pendidikan modern menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Rangkaian HIMAGHA 33 akan diisi berbagai perlombaan yang melibatkan santri dan masyarakat. Selanjutnya pada 22 Juni 2026 akan digelar pengajian akbar, sebelum ditutup dengan pentas seni dan kreativitas santri pada 23 Juni 2026.
Ketua Yayasan Ghayatul Anwar, Sunento, S.Sos, menilai gagasan yang diusung panitia tahun ini merupakan terobosan yang memiliki nilai edukatif sekaligus kultural yang kuat.
“Saya sangat mengapresiasi kreativitas panitia HIMAGHA 33. Konsep penyalaan 1.000 dhamar kambang dan tabur beras kuning bukan sekadar simbolik, tetapi menjadi pesan bahwa pendidikan harus tetap berpijak pada akar budaya dan tradisi yang kita miliki,” ujarnya.
Menurut Sunento, konsep tersebut merupakan bentuk keberanian generasi muda dalam menghadirkan inovasi tanpa meninggalkan identitas lokal yang menjadi ciri khas masyarakat Madura.
“Muatan lokal yang diangkat sangat kuat dan saya melihat belum banyak lembaga pendidikan yang mengawali haflah dengan simbol budaya seperti ini. Karena itu saya optimistis HIMAGHA 33 akan menjadi momentum penting dalam memperkuat karakter santri sekaligus kecintaan terhadap budaya daerah,” tambah Sunento.

Sementara itu, Pembina Yayasan Ghayatul Anwar, Syifa Ubaidillah Masyhuri, menyampaikan dukungan penuh terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang digagas oleh panitia dari kalangan dewan guru muda.
“Kami memberikan dukungan penuh karena panitia berhasil menghadirkan konsep yang segar, kreatif, dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Mereka mampu mengemas tradisi menjadi sesuatu yang menarik tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.
Ia berharap HIMAGHA 33 tidak hanya menjadi agenda tahunan, melainkan juga menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan baru yang dapat membawa kemajuan bagi lembaga.
“Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan sukses. HIMAGHA harus menjadi wadah untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta memiliki kebanggaan terhadap budaya dan tradisinya sendiri. Dengan semangat itu, saya yakin Ghayatul Anwar akan semakin maju dan berkembang,” tutup Syifa Ubaidillah Masyhuri.
Pelaksanaan HIMAGHA 33 menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menjaga identitas, merawat tradisi, dan membangun karakter generasi penerus bangsa.
Melalui cahaya 1.000 dhamar kambang yang menerangi malam pembukaan di Desa Banuaju Barat, Yayasan Ghayatul Anwar ingin mengirimkan pesan bahwa tradisi dan kemajuan dapat berjalan beriringan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. (REDJAVA****)












