JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di tengah gelombang laut yang penuh tantangan, nelayan Masalembu kembali harus menelan pil pahit.
Hasil tangkapan yang seharusnya menjadi berkah, justru berakhir terbuang sia-sia ke laut.
Berton-ton ikan layang hasil jerih payah berhari-hari di samudra, tak terserap pasar karena pedagang kewalahan menampung limpahan tangkapan.
Fenomena memilukan ini bukan kali pertama terjadi. Setahun lalu, nelayan Masalembu juga mengalami hal serupa.
Luka lama itu kini kembali terulang, meninggalkan rasa getir dan kekecewaan mendalam.
Maeli, seorang nelayan asal Desa Sukajeruk, tak kuasa menahan kesedihan ketika 1,6 ton ikan hasil tangkapannya terpaksa ia buang.
“Kami sudah keluarkan biaya dan tenaga untuk melaut. Begitu pulang, ikan ditolak pembeli. Mau direbus sendiri jelas tak mungkin, jumlahnya terlalu banyak,” ujarnya, Rabu (27/08/2026).
Menanggapi situasi tersebut, Ketua Rawatan Samudra, Sunarto, langsung berinisiatif mengumpulkan nelayan untuk bermusyawarah.
Dari pertemuan itu, para nelayan sepakat mendorong adanya kapal-kapal besar dari luar daerah yang dapat membeli ikan langsung di Masalembu, agar tragedi serupa tidak kembali berulang.
“Kami ingin tetap bekerja, hasil tangkapan bisa diserap, dan tidak ada lagi ikan yang terbuang sia-sia,” tutur Sunarto penuh harap.
Nestapa ini kian terasa karena musim ikan hanya datang sekali dalam setahun. Ketika kesempatan itu tiba, justru hasil tangkapan tak bisa dijual.
“Tahun lalu banyak ikan yang kami buang. Sekarang terulang lagi. Kami mohon pemerintah hadir memberi solusi nyata. Jangan biarkan kerja keras kami berakhir dengan kekecewaan,” tambahnya.
Masalembu, sebuah kecamatan kepulauan di Kabupaten Sumenep, dikenal sebagai wilayah dengan potensi perikanan yang melimpah.
Namun, tanpa dukungan distribusi dan pasar yang memadai, limpahan hasil laut itu justru menjadi ironi: rezeki yang seharusnya menyejahterakan, berbalik menjadi beban.
Kini, nelayan Masalembu hanya bisa berharap tangan pemerintah segera terulur, membawa jalan keluar yang adil dan berkelanjutan.
Agar laut yang mereka cintai tak lagi menjadi saksi bisu atas rezeki yang terbuang, melainkan benar-benar menjadi sumber kehidupan bagi keluarga dan generasi mereka. (REDJAVA****)












