JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Komitmen meningkatkan kualitas pendidikan madrasah terus diperkuat menjelang Tahun Ajaran 2026/2027. Sebanyak 29 Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) se-Kecamatan Bluto mengikuti kegiatan Reviu Kurikulum Madrasah (KM) dan Sosialisasi MATAMUDA (Masa Taaruf Murid Madrasah) yang digelar Kelompok Kerja Madrasah (KKM) MTs Kecamatan Bluto di MTs An Nawari, Desa Sera Tengah, Kecamatan Bluto, Senin (6/7/2026).
Kegiatan yang menghadirkan Pengawas Madrasah Tingkat Menengah Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Fathor Arifin, M.Pd., serta Hidayah, MM, itu menjadi forum strategis untuk menyelaraskan implementasi kebijakan pendidikan terbaru.
Fokus pembahasan diarahkan pada penyempurnaan Kurikulum Madrasah, penerapan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), hingga pedoman pelaksanaan MATAMUDA sebagai gerbang awal pembentukan karakter peserta didik.
Dalam paparannya, Fathor Arifin mengatakan bahwa reviu kurikulum bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan langkah strategis untuk memastikan madrasah mampu menjawab perubahan zaman tanpa meninggalkan jati diri pendidikan Islam.
“Kurikulum Madrasah harus direviu setiap tahun agar selalu relevan dengan perkembangan regulasi, kebutuhan peserta didik, dan arah kebijakan pendidikan nasional. Kurikulum tidak boleh berhenti sebagai dokumen administrasi, tetapi harus benar-benar hidup dalam proses pembelajaran,” kata Fathor Arifin, M.Pd.
Menurutnya, revisi kurikulum tahun ini mencakup penyesuaian istilah Kurikulum Madrasah, penguatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), integrasi Kurikulum Berbasis Cinta, penyempurnaan visi dan misi, strategi pengembangan madrasah, kemitraan, sumber pembiayaan, penyusunan program kokurikuler dan ekstrakurikuler, implementasi Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH), hingga sistem asesmen pembelajaran yang lebih adaptif.
Fathor menambahkan, perubahan kebijakan harus direspons dengan kesiapan seluruh satuan pendidikan agar mutu pembelajaran terus meningkat.
“Madrasah harus menjadi lembaga yang adaptif terhadap perubahan. Setiap kebijakan baru harus diterjemahkan menjadi program nyata yang meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan membentuk karakter peserta didik,” ujarnya.
Selain pembahasan kurikulum, sosialisasi MATAMUDA Tahun Ajaran 2026/2027 menjadi perhatian utama. Program ini dirancang sebagai masa pengenalan lingkungan madrasah yang edukatif, ramah anak, dan menanamkan nilai-nilai keislaman, moderasi beragama, serta budaya belajar yang menyenangkan melalui permainan edukatif, simulasi, diskusi, role play, amazing race, proyek kolaboratif, hingga ice breaking.
Peserta juga mendapatkan panduan penyusunan jadwal kegiatan, materi kemadrasahan, strategi pelibatan orang tua, media komunikasi, pemetaan talenta murid baru, hingga penyelenggaraan Pentas Ekspresi Murid Baru.
Fathor Arifin menilai, keberhasilan MATAMUDA akan menjadi fondasi penting bagi perjalanan akademik peserta didik selama belajar di madrasah.
“Hari-hari pertama murid di madrasah sangat menentukan. MATAMUDA harus menjadi pengalaman yang menyenangkan, membangun rasa percaya diri, menanamkan karakter positif, sekaligus mengenalkan budaya belajar yang humanis,” jelas Fathor Arifin.
Dalam kesempatan yang sama, Hidayah, MM memaparkan bahwa implementasi Kurikulum Berbasis Cinta harus menjadi ruh seluruh aktivitas pendidikan di madrasah. Menurutnya, penyusunan Rencana Kerja Kepala Madrasah (RKKM) harus berbasis hasil Rapor ANBK sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai KBC.
Materi yang disampaikan mencakup penyusunan perangkat pembelajaran berbasis cinta, penguatan kokurikuler melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, penerapan Tepuk Panca Cinta sebagai media ice breaking, delapan dimensi profil lulusan, pelaksanaan supervisi akademik, implementasi KMA Nomor 1503, pengembangan tema kokurikuler selama 144 jam pelajaran per tahun, pemetaan kemampuan murid baru dalam MATAMUDA, hingga penguatan pendidikan karakter melalui kegiatan berbasis kearifan lokal.
“Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir dalam seluruh aktivitas madrasah, mulai dari intrakurikuler, kokurikuler, hingga ekstrakurikuler. Bahkan sejak MATAMUDA, setiap murid perlu dipetakan potensinya agar memperoleh layanan pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya,” ungkap Hidayah.
Lebih lanjut, Fathor Arifin, M.Pd, kembali mengingatkan bahwa keberhasilan implementasi kurikulum tidak hanya ditentukan oleh kualitas dokumen, tetapi juga komitmen seluruh warga madrasah dalam menjalankannya secara konsisten.
“Kolaborasi kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan peserta didik menjadi kunci lahirnya madrasah yang unggul. Ketika kurikulum dijalankan dengan semangat kolaborasi dan cinta, maka madrasah akan melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, religius, serta siap menghadapi tantangan masa depan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, 29 kepala MTs se-Kecamatan Bluto diharapkan memiliki persepsi yang sama dalam menyusun Kurikulum Madrasah dan melaksanakan MATAMUDA Tahun Ajaran 2026/2027. Keselarasan tersebut menjadi langkah nyata dalam memperkuat transformasi pendidikan madrasah yang adaptif, berkualitas, ramah anak, serta berorientasi pada pengembangan karakter dan prestasi peserta didik.












