JAVANETWORK.CO.ID.SITUBONDO – Lautan di utara Jawa kembali ramai oleh gelombang rindu yang perlahan pamit. Kamis malam (3/4), Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo menjadi saksi bisu kepulangan ratusan warga dari Pulau Raas dan Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Madura.
Arus balik Lebaran 1446 H telah dimulai, dan mulai menunjukkan lonjakan signifikan sejak H+2 Idulfitri.
Kapal Motor Penumpang (KMP) Dharma Kartika yang mengangkut penumpang dari Raas tiba dengan membawa 342 orang, 68 sepeda motor, dan 4 kendaraan roda empat.
Pelabuhan yang biasanya tenang, malam itu berubah menjadi titik temu antara kenangan dan kenyataan.
“Memang ada peningkatan arus balik yang cukup signifikan dibanding H+1. Sebagian besar penumpang adalah pekerja yang kembali ke Bali,” ujar Maman Surahman, Manajer PT Dharma Dwipa Utama (DDU), di Situbondo, Jumat (4/4).
Mereka datang dari pulau-pulau kecil yang jauh dari keramaian, namun kaya akan nilai-nilai tradisi dan ikatan kekeluargaan.
Kini, setelah beberapa hari merayakan Lebaran di kampung halaman, waktu pun menuntut mereka untuk kembali menjalani rutinitas di perantauan.
Salah satunya adalah Harianto (35), warga Pulau Raas yang bekerja di Bali. Ia memilih pulang lebih awal karena masa cutinya telah habis.
“Selain itu, saya ingin menghindari kepadatan di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Tahun lalu saya sempat terjebak macet belasan jam. Pengalaman itu cukup membuat saya lebih berhitung tahun ini,” katanya dengan senyum tipis.
Sementara dari arah timur laut, arus serupa juga terjadi dari Pulau Kangean. KMP Munggiyango Hulalo yang berlayar ke Jangkar pada hari yang sama mencatat 226 penumpang, 52 sepeda motor, dan 18 mobil dalam satu keberangkatan.
Gelombang arus balik diperkirakan akan terus meningkat hingga tiga hari ke depan. Operator pelayaran dan petugas pelabuhan telah bersiaga penuh untuk mengantisipasi lonjakan penumpang dan kendaraan.
Ritual mudik dan arus balik bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin: pulang untuk meneguhkan ikatan, lalu pergi lagi demi masa depan.
Tahun demi tahun, tradisi ini terus berlangsung, menciptakan narasi kolektif tentang harapan dan perjuangan anak-anak kepulauan.
Madura mungkin melepas mereka ke rantau, namun hatinya selalu menjadi pelabuhan tempat mereka kembali. (REDJAVA****)












