JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Gerakan membangun budaya literasi sejak usia dini terus dipacu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sumenep. Kali ini, pembekalan lomba bertutur tingkat SD digelar, Kamis (13/8/2026).
Bertempat di Aula Kantor Dispusip Sumenep, kegiatan tersebut diikuti guru pendamping. Mereka dipersiapkan untuk meneruskan materi pembekalan kepada siswa yang akan menjadi peserta lomba bertutur tingkat sekolah dasar.
Bagi Dispusip Sumenep, lomba bertutur bukan sekadar panggung untuk menguji kemampuan siswa berbicara. Di baliknya, terdapat misi besar untuk menanamkan kecintaan membaca sekaligus membangun keberanian anak dalam menyampaikan gagasan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dispusip Kabupaten Sumenep melalui Plt. Kabid Pengawasan, Pengembangan dan Layanan Kearsipan, Agus Utomo, SE., MM., menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi salah satu strategi memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar.
“Kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan minat baca dan literasi di Kabupaten Sumenep. Kami ingin siswa sejak awal aktif membaca, baik di sekolah, di rumah maupun di perpustakaan,” kata Agus Utomo dalam sambutannya.
Menurut Agus, kebiasaan membaca tidak cukup hanya dibangun melalui kegiatan belajar di ruang kelas. Anak perlu diberikan ruang untuk berinteraksi dengan bacaan, memahami pesan di dalamnya, kemudian mengolahnya menjadi sebuah cerita yang mampu disampaikan secara menarik.
Karena itu, lomba bertutur dinilai memiliki nilai strategis. Siswa tidak hanya dituntut mampu membaca, tetapi juga harus memahami isi bacaan, mengembangkan imajinasi, mengolah informasi, hingga mengemasnya dalam tutur kata yang mudah dipahami.
“Melalui kegiatan ini, siswa dilatih untuk berimajinasi dan mengolah informasi dari teks bacaan. Mereka juga belajar bagaimana menyampaikan kembali informasi tersebut dengan bahasa yang baik dan menarik,” katanya.
Lebih jauh, Dispusip Sumenep melihat kemampuan bertutur sebagai bekal penting bagi generasi muda. Keberanian tampil di depan orang lain dapat membentuk rasa percaya diri yang kelak dibutuhkan dalam lingkungan pendidikan maupun kehidupan sosial.
Guru pendamping pun memiliki peran penting dalam proses tersebut. Setelah mendapatkan pembekalan, mereka diharapkan mampu memberikan pendampingan secara intensif kepada peserta agar setiap anak memiliki kesiapan, penguasaan materi, ekspresi, serta keberanian saat tampil.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada perlombaan. Yang paling penting adalah bagaimana anak-anak memiliki kebiasaan membaca, mampu memahami informasi, berani berkomunikasi dan percaya diri tampil di depan publik,” tutup Agus.
Semangat tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Dispusip Kabupaten Sumenep untuk menjadikan perpustakaan dan aktivitas membaca sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda. Literasi diharapkan tidak hanya menjadi program seremonial, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan siswa.
Dengan pembekalan ini, Dispusip Sumenep ingin menghadirkan generasi pelajar yang bukan hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, berimajinasi, mengolah informasi, serta menyampaikan gagasan dengan percaya diri.









