Sumpah Pemuda dan Krisis Nilai Generasi Muda: Refleksi 97 Tahun

- Redaksi

Selasa, 28 Oktober 2025 - 18:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jesss (Aktivis Mahasiswa)

Jesss (Aktivis Mahasiswa)

JAVANETWORK.CO.ID.OPINI – Sembilan puluh tujuh tahun telah berlalu sejak para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul di Batavia untuk mengikrarkan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda 1928 menjadi momentum historis yang menyatukan bangsa ini di atas perbedaan suku, agama, dan bahasa. Ia bukan sekadar pernyataan politik, melainkan revolusi kesadaran yang melahirkan cita-cita kebangsaan.

Namun, di tengah peringatan yang setiap tahun digelar penuh seremonial, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana kondisi kesadaran kebangsaan generasi muda hari ini?

Jika pada 1928 para pemuda berjuang melawan penjajahan fisik, maka pemuda masa kini menghadapi bentuk penjajahan baru yang lebih halus—penjajahan kesadaran. Era digital menghadirkan arus informasi yang deras dan tanpa batas. Media sosial menciptakan budaya instan, hedonisme, dan flexing yang menggeser nilai perjuangan dan empati sosial. Banyak anak muda merasa cukup berpartisipasi dengan unggahan di dunia maya, bukan dengan aksi nyata di lapangan.

Fenomena ini tampak dari menurunnya minat pemuda terhadap isu sosial, rendahnya literasi politik, hingga melemahnya semangat gotong royong. Mereka lebih sibuk membangun citra diri ketimbang membangun kesadaran kolektif. Padahal, sebagaimana ditegaskan Tan Malaka, “Bila kaum muda yang terpelajar menganggap dirinya terlalu tinggi untuk melebur dengan masyarakat bawah, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.”

Indonesia hari ini sedang menikmati bonus demografi. Data menunjukkan, 52 persen penduduk Indonesia berusia di bawah 35 tahun, dan diperkirakan pada 2030 angka itu meningkat hingga 68,3 persen. Ini adalah peluang emas yang hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Namun, peluang ini bisa berubah menjadi bencana apabila tidak diimbangi dengan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial dari generasi muda.

Baca Juga :  Festival Srikaya 2025: Sensasi Manis dari Tanah Sumenep, Simbol Kebangkitan Ekonomi dan Spirit Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Tantangan terbesar pemuda saat ini bukanlah keterbatasan akses atau kesempatan, melainkan krisis makna dalam berbangsa dan bernegara. Nasionalisme kerap berhenti di slogan, tidak berlanjut menjadi tindakan. Padahal, semangat kebangsaan mestinya dimaknai sebagai proyek peradaban yang berkelanjutan sebuah komitmen moral untuk memperbaiki tatanan sosial dan menegakkan keadilan.

Sumpah Pemuda 1928 lahir dari semangat kolektif para pemuda yang rela menanggalkan ego sektoral demi cita-cita bersama. Mereka tidak menunggu keadaan ideal untuk bertindak. Kini, tantangannya adalah bagaimana semangat itu bisa diterjemahkan ulang di tengah era disrupsi dengan kerja nyata, kreativitas, dan solidaritas lintas generasi.

Soekarno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu bukan retorika kosong, melainkan penegasan bahwa perubahan besar selalu bermula dari kesadaran kecil yang menular.

Baca Juga :  Pimpin Upacara Hari Pahlawan ke-78, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Gelorakan Semangat Para Pahlawan

Maka, refleksi 97 tahun Sumpah Pemuda harus menjadi ruang kontemplatif bagi generasi muda untuk menegaskan kembali identitas dan tanggung jawab sejarahnya. Pemuda Indonesia hari ini tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi dituntut untuk sadar-sadar akan sejarah bangsanya, potensi dirinya, dan tanggung jawabnya terhadap masa depan negeri.

Pertanyaannya kini sederhana, namun mendalam: apakah kita masih menjadi pewaris semangat 1928, atau justru generasi yang kehilangan arah di tengah kebisingan zaman?

Bangsa ini membutuhkan pemuda yang berani berpikir, berbuat, dan berkorban. Sebab dari tangan merekalah masa depan Indonesia akan ditulis ulang dengan tinta perjuangan, bukan dengan kilau citra digital. (REDJAVA****)

Penulis : Jess Aktivis Mahasiswa Selasa (28/10/2025)

Editor : REDJAVA

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga
HUT ke-81 RI, PDI Perjuangan Sumenep Tekankan Semangat Gotong Royong dan Kerja Nyata
HUT ke-81 RI di Sumenep, Bupati Fauzi Bicara Kemerdekaan yang Harus Terasa

BERITA TERKAIT

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:21 WIB

154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas

Senin, 17 Agustus 2026 - 17:54 WIB

75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan

BERITA TERBARU