JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Pikiran adalah tempat paling riuh dalam sunyi. Di sana, gema masa lalu tak pernah benar-benar padam. Wajah seseorang yang pernah terlalu lama tinggal di hati bisa hidup lebih abadi dari waktu itu sendiri. Begitulah kisah saya: sebuah autobiografi cinta yang tak pernah benar-benar selesai dan mungkin, memang tak seharusnya selesai.
Aku mengenalnya bukan dalam adegan film yang romantis. Tak ada hujan yang mengguyur atau tatapan yang saling mengunci di sudut kafe. Kami bertemu pada hari biasa, di tempat yang biasa, dengan percakapan yang terlalu biasa untuk dikenang. Namun entah mengapa, wajahnya tertanam, dan tak pernah benar-benar pergi.
Bayangannya bukan sekadar kenangan. Ia menjelma kabut yang menyelimuti benak. Saat pagi tiba, ia hadir di sela aroma kopi. Saat malam datang, ia menyusup di antara celah mimpi dan kesadaran. Cinta ini bukan soal memiliki, tapi soal bagaimana ia tetap hidup dalam cerita hidup saya tanpa pernah benar-benar menjadi tokoh utama.
Saya pernah mencoba melupakannya. Saya percaya waktu bisa menyembuhkan. Saya kira cinta bisa dikubur seperti surat usang. Tapi ternyata tidak. Cinta ini tidak membusukia justru bermetamorfosis: dari rindu menjadi puisi, dari kehilangan menjadi pengertian.
Wajahnya adalah penanda waktu. Saat saya tersenyum, ia hadir di baliknya. Saat saya terluka, ia datang sebagai jeda yang menenangkan. Ia bukan hantu. Bukan harapan. Ia adalah rasa yang tak bisa diberi nama hanya bisa dirasakan.
Autobiografi cinta saya bukan kisah tentang dua orang yang bersatu. Ini adalah kisah tentang seseorang yang belajar mencintai dalam diam, menyayangi tanpa syarat, dan memahami bahwa tidak semua cinta dimaksudkan untuk tinggal bersama kita. Beberapa akan tinggal di pikiran selamanya.
Dan mungkin, itulah bentuk cinta paling utuh: yang tak pernah memiliki, tapi juga tak pernah pergi. (REDJAVA****)
Penulis : Jazz, Kamis 10 Juli 2025
Editor : REDJAVA












