JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sumenep, kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura, dikenal memiliki segudang potensi dalam berbagai cabang olahraga.
Dari lapangan sepak bola desa hingga gelanggang silat di kampung-kampung, talenta muda terus bermunculan, menampilkan semangat kompetisi yang tinggi.
Namun sayangnya, semangat itu belum sepenuhnya ditopang dengan ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan.
Hal ini tercermin dari hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Kontingen Sumenep harus kembali puas berada di papan bawah klasemen akhir.
Dengan raihan 6 medali emas, 10 perak, dan 15 perunggu, total 59 poin yang diperoleh menempatkan Sumenep di posisi ke-31 dari 38 kabupaten/kota peserta.
Sebuah capaian yang menunjukkan stagnasi, bahkan bisa dikatakan stagnan sejak dua edisi terakhir Porprov.
Namun bukan sekadar peringkat yang menjadi sorotan. Ada persoalan yang lebih mengkhawatirkan: fenomena eksodus atlet. Sejumlah atlet potensial asal Sumenep memilih untuk memperkuat kontingen daerah lain.
Mereka yang sejak kecil tumbuh dan berlatih di tanah Sumekar, kini justru tampil membela kabupaten/kota lain dan ironisnya, beberapa dari mereka bahkan sukses menyumbang medali emas bagi daerah barunya.
Ini tentu menjadi tamparan keras bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep dan seluruh elemen pembina olahraga di dalamnya, termasuk KONI dan dinas terkait. Pertanyaannya sederhana namun fundamental: mengapa mereka pergi?
Minimnya fasilitas latihan, ketidakjelasan jenjang karier, rendahnya apresiasi, serta absennya jaminan kesejahteraan menjadi sejumlah alasan yang kerap disebut para atlet.
Mereka merasa tidak dihargai di tanah sendiri, sehingga ketika datang tawaran dari daerah lain yang lebih menjanjikan, mereka pun memilih pindah.
Padahal, pembinaan atlet tidaklah instan. Ia butuh proses panjang, dukungan moral, finansial, serta infrastruktur yang memadai. Kehilangan atlet seperti ini sama artinya dengan menyia-nyiakan investasi jangka panjang.
Yang rugi bukan hanya Sumenep secara statistik perolehan medali, melainkan secara moral sebagai daerah yang gagal menjaga aset manusianya.
Sudah waktunya pemerintah daerah melakukan introspeksi serius. Tak cukup hanya hadir saat pembukaan kejuaraan atau memberikan bonus seremonial.
Dibutuhkan grand design pembinaan olahraga jangka panjang, yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada proses dan keberlanjutan karier atlet.
Kesejahteraan pelatih, keberadaan pelatnas daerah, pembinaan usia dini, serta monitoring rutin harus menjadi bagian dari agenda besar reformasi olahraga Sumenep.
KONI, Disbudporapar, dan para pemangku kepentingan harus duduk satu meja, menyatukan visi dan strategi.
Jika tidak, maka bersiaplah menjadi penonton tetap, menyaksikan anak-anak Sumenep mengibarkan kejayaan tapi di luar rumahnya sendiri.
Jangan sampai kita hanya menjadi saksi bisu atas keberhasilan orang-orang yang sebenarnya adalah milik kita sendiri. (REDJAVA****)
Penulis : Mahrus Ali Jurnalis Olahraga 07 Juli 2025
Editor : REDJAVA












