JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Kepala Stasiun Meteorologi Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, mengimbau masyarakat yang beraktivitas di laut, khususnya nelayan tradisional, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem selama masa pancaroba atau peralihan musim hujan ke kemarau.
Ari menegaskan, meskipun cuaca secara umum masih terpantau kondusif, namun perubahan mendadak seperti angin kencang, gelombang tinggi, hingga hujan lebat bisa terjadi kapan saja dan membahayakan aktivitas di laut.
“Saat berada di laut dan cuaca mendadak memburuk, tidak ada perlindungan yang memadai. Inilah yang perlu diantisipasi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (23/4/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pihaknya menjelaskan, masa pancaroba umumnya ditandai dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil.
Gejala seperti cuaca cerah yang tiba-tiba berubah menjadi hujan deras disertai angin kencang menjadi karakteristik utama fase ini.
“Situasi tersebut sangat berisiko, terutama bagi nelayan yang mengandalkan perahu kecil tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai,” jelasnya.
Ari juga meminta masyarakat pesisir lebih peka terhadap tanda-tanda perubahan cuaca dan tidak memaksakan diri melaut jika kondisi tidak memungkinkan.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan abaikan peringatan dini maupun informasi cuaca dari BMKG,” tegasnya.
Ia mendorong para nelayan untuk memanfaatkan layanan informasi cuaca harian dari BMKG sebagai acuan sebelum beraktivitas di laut.
Menurutnya, pemahaman yang baik terhadap dinamika cuaca dapat meminimalkan risiko kecelakaan laut.
“Lebih baik menunda melaut daripada mengambil risiko yang tidak perlu. Masa pancaroba memang singkat, tapi kita harus tetap waspada,” pungkasnya. (REDJAVA****)










