JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suasana berbeda terasa di Rumah Tahanan (Rutan) Polres Sumenep, Rabu (4/3/2026) petang. Di balik pintu besi dan dinding pembatas kebebasan, Kapolres Sumenep Anang Hardiyanto, S.I.K, duduk bersisian dengan para tahanan, menanti azan magrib berkumandang.
Tak ada sekat formalitas. Yang tampak justru percakapan ringan, tatap muka yang setara, dan suasana hangat yang jarang terlihat dalam rutinitas penegakan hukum. Momentum buka puasa bersama itu menjadi simbol pendekatan humanis yang coba ditegaskan jajaran kepolisian setempat.
Didampingi pejabat utama dan anggota jaga tahanan, Kapolres mengawali kegiatan dengan doa bersama. Ia kemudian berdialog langsung dengan para tahanan, menyampaikan pesan refleksi dan motivasi agar bulan suci Ramadhan dijadikan ruang perenungan, bukan sekadar ritual tahunan.
“Momentum Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk saling berbagi dan memperkuat nilai keimanan. Kami ingin menunjukkan bahwa Polri tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan pembinaan dan sentuhan kemanusiaan kepada saudara-saudara kita yang sedang menjalani proses hukum,” kata AKBP Anang Hardiyanto.
Bagi Anang, tahanan tetaplah warga negara yang memiliki hak untuk diperlakukan secara manusiawi. Proses hukum, menurutnya, harus berjalan beriringan dengan pembinaan mental dan spiritual.
“Kami berharap kegiatan sederhana ini dapat memberikan semangat dan motivasi agar ke depan mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik serta tidak mengulangi perbuatannya,” tambahnya.
Buka puasa bersama itu memang berlangsung singkat. Namun pesan yang hendak disampaikan cukup jelas: pendekatan hukum tak selalu identik dengan jarak dan kekakuan. Ada ruang empati yang tetap harus dijaga.
Di tengah komitmen reformasi pelayanan publik, langkah kecil seperti ini menjadi bagian dari upaya membangun wajah kepolisian yang lebih humanis dan berkeadilan. Di bulan yang identik dengan pengampunan, pesan tentang kesempatan kedua terasa menemukan relevansinya.
Di balik jeruji, senja itu tak hanya menandai waktu berbuka. Ia juga menjadi pengingat bahwa pembinaan, harapan, dan kesempatan untuk berubah tetap terbuka bagi siapa pun. (REDJAVA****)












