JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Pagi itu berjalan seperti biasa di Jalan Urip Sumoharjo. Kendaraan lalu-lalang, aktivitas warga mengalir tanpa henti.
Namun di sisi timur simpang tiga Polres Sumenep, ada pemandangan sederhana yang menyimpan makna mendalam: tangan-tangan relawan yang dengan tulus membagikan 75 bungkus nasi “Bungturat”.
Bukan sekadar makanan, setiap bungkus nasi yang diberikan Komunitas KBS Sumenep pada Jumat (1/5/2026) seolah menjadi pengingat bahwa kepedulian masih tumbuh di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
Senyum para penerima, dari pengendara hingga pekerja harian, menjadi bahasa yang tak perlu diterjemahkan—bahwa kebaikan sekecil apa pun selalu menemukan jalannya.
Ketua KBS Sumenep, Akhmad Sahruddin, SH, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari niat sederhana: menghadirkan kehangatan bagi sesama di hari yang penuh berkah.
“Kami hanya ingin berbagi, menghadirkan sedikit kehangatan di tengah aktivitas mereka. Mungkin tidak besar, tapi kami berharap ini bisa berarti,” kata Akhmad Sahruddin SH kepada media ini, Jum’at (01/05/2025)
Di balik kesederhanaannya, program “Bungturat” menyimpan semangat gotong royong yang terus dijaga. Para relawan datang bukan karena kewajiban, melainkan karena panggilan hati.
“Ini bukan soal berapa banyak yang kami beri, tapi tentang rasa yang kami bawa. Kami ingin setiap orang yang menerima merasakan bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.
Bagi KBS Sumenep, Jumat bukan hanya pergantian hari dalam kalender. Ia menjadi ruang untuk menanam harapan, sekaligus mengingatkan bahwa berbagi tidak menuntut kemewahan.
“Kami percaya, kebaikan tidak harus menunggu mampu. Justru dari hal sederhana seperti ini, kita belajar untuk peduli,” tambah Akhmad Sahruddin.
Ia pun berharap langkah kecil ini dapat menular, menggerakkan lebih banyak hati untuk ikut berbagi.
“Kalau satu komunitas bisa memulai, kami yakin akan ada banyak yang mengikuti. Dan saat itu terjadi, kebaikan akan menjadi kebiasaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Akhmad menegaskan bahwa kekuatan utama dari gerakan ini adalah keikhlasan yang terus dijaga.
“Selama niat ini tetap tulus, kami akan terus berjalan. Karena pada akhirnya, yang kami bagi bukan hanya nasi, tapi juga harapan,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus kehidupan, apa yang dilakukan KBS Sumenep mungkin tampak sederhana.
Namun dari 75 bungkus nasi “Bungturat” itu, terselip pesan yang jauh lebih besar bahwa di Sumenep, masih ada hati yang memilih untuk peduli, dan tangan yang tak lelah untuk berbagi. (REDJAVA****)













