JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Jarum jam baru melewati tengah malam ketika suasana Taman Makam Pahlawan (TMP) Jokotole, Sumenep, berubah menjadi begitu hening. Sabtu (15/8/2026) pukul 00.01 WIB, para pemimpin daerah berdiri dalam satu barisan untuk mengenang mereka yang telah gugur demi Indonesia.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Pemerintah Kabupaten Sumenep mengikuti Apel Kehormatan dan Renungan Suci (AKRS).
Cahaya malam menjadi saksi penghormatan kepada para pahlawan. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan. Hanya doa, keheningan, dan penghormatan yang mengalir untuk mereka yang telah memberikan hidupnya bagi kemerdekaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolresta Sumenep Kombes Pol. Ariek Indra Sentanu, S.H., S.I.K., M.H., bertindak sebagai inspektur upacara. Dengan suasana penuh khidmat, ia membacakan naskah AKRS sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan yang dimakamkan di TMP Jokotole.
“Jasa para pahlawan selalu hidup. Kehadiran kami menjadi wujud penghormatan, doa, dan tekad menjaga nilai perjuangan mereka bagi bangsa,” kata Kapolresta Kombes Pol Ariek Indra Sentanu SH, SIK, MH.
Di tempat itu, nama dan jumlah mereka kembali dikenang. Sebanyak 26 pahlawan angkatan bersenjata, satu pegawai sipil, lima pejuang rakyat, serta enam pahlawan tidak dikenal tercatat dimakamkan di TMP Jokotole.
Mereka mungkin telah lama meninggalkan dunia. Namun, jejak perjuangannya tetap hidup dalam kemerdekaan yang dinikmati generasi hari ini.
Kapolresta menegaskan bahwa pengorbanan para pahlawan bukan sekadar catatan sejarah. Nilai perjuangan tersebut harus diteruskan melalui pengabdian nyata untuk bangsa dan negara.
“Pengorbanan pahlawan tidak boleh berhenti sebagai kenangan. Generasi penerus harus meneruskan semangat melalui pengabdian, menjaga persatuan, serta bekerja tulus demi bangsa,” tegasnya.
Pesan itu terasa semakin kuat ketika seluruh peserta berdiri dalam suasana hening. Renungan suci bukan hanya mengajak mengenang masa lalu, tetapi juga mengingatkan bahwa kemerdekaan membawa tanggung jawab besar.
Generasi saat ini memiliki tugas untuk menjaga persatuan, merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengisi kemerdekaan melalui karya dan pengabdian.
Di hadapan pusara para pahlawan, janji itu kembali diteguhkan. Perjuangan yang telah dimulai para pendahulu tidak boleh berhenti hanya karena zaman telah berubah.
“Di hadapan pusara pahlawan, kami meneguhkan janji meneruskan perjuangan. Zaman boleh berubah, tetapi semangat pengabdian dan cinta kepada bangsa harus menyala,” ujar Kapolresta Sumenep.
Doa kemudian dipanjatkan bagi seluruh arwah para pahlawan. Para peserta memohon agar mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Rangkaian AKRS berlanjut dengan prosesi tabur bunga. Bupati Sumenep bersama jajaran Forkopimda secara bergantian menaburkan bunga di pusara para pahlawan.
Tabur bunga menjadi penutup yang sederhana, tetapi sarat makna. Setangkai bunga diletakkan di atas pusara sebagai simbol penghormatan atas pengorbanan yang tidak ternilai.
AKRS di TMP Jokotole akhirnya bukan sekadar agenda menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari pengorbanan dan harus dijaga dengan pengabdian.
“Peringatan ini bukan sekadar rutinitas. Dari TMP Jokotole, kami belajar bahwa kemerdekaan dibangun dengan pengorbanan. Karena itu, wajib menjaganya melalui pengabdian tulus, kerja nyata, persatuan, dan kepedulian demi Indonesia,” pungkasnya.
Dari tengah malam di TMP Jokotole, pesan itu kembali menggema: bangsa yang besar tidak hanya pandai mengenang pahlawannya, tetapi juga mampu meneruskan perjuangannya.









