JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Langit intelektual Madura bergemuruh. Universitas Wiraraja (UNIJA) Madura, kampus kebanggaan masyarakat Pulau Garam, menggelar Kuliah Umum spektakuler bertajuk “Membangun Ketahanan Nasional melalui Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan” di Graha Sumekar, Senin (16/6/2025).
Yang membuat forum ini luar biasa adalah kehadiran Mayor Jenderal TNI Farid Makruf, Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam dari Lemhannas RI, sebagai pembicara utama.
Mantan Pangdam V/Brawijaya itu tak sekadar berbicara, ia menggugah kesadaran nasional, membongkar pentingnya SDA sebagai benteng pertahanan masa depan bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apa yang dilakukan UNIJA Madura hari ini sangat revolusioner. Dari Madura, muncul semangat baru menjaga tanah air bukan lewat peluru, tapi lewat ilmu dan keberlanjutan,” tegas Mayjen Farid.
Lebih dari itu, pria kelahiran Arosbaya, Bangkalan ini menegaskan, forum seperti ini telah mematahkan label usang yang kerap dilekatkan pada Madura.
“Dulu, Madura sering dipandang sebelah mata identik dengan carok dan keterbelakangan. Hari ini kita melihat yang sebaliknya: Madura adalah pusat intelektual, pemikiran, dan perubahan,” tegasnya penuh semangat.
Sementara itu, Rektor UNIJA Madura Sjaifurrachman, dalam keterangan persnya hari ini, Selasa (17/6/2025), menegaskan bahwa kampus tidak boleh diam dalam persoalan strategis kebangsaan.
Ia menyebut, ketahanan nasional tidak semata urusan militer, tapi juga bergantung pada cara bangsa ini mengelola kekayaan alamnya secara adil dan lestari.
“Ketika kita abai terhadap alam, maka kita sedang mengundang bencana sosial, ekonomi, bahkan ancaman terhadap eksistensi negara,” ujar Sjaifurrachman.
Menurutnya, kampus punya peran kunci: melahirkan gagasan, teknologi, dan pemimpin masa depan yang mampu menjaga kedaulatan bangsa dalam segala dimensi.
“Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton dalam isu strategis. Mereka harus jadi aktor utama dalam membangun masa depan yang berkelanjutan,” tandasnya.
Yang tak kalah menggugah, acara ini juga dihadiri oleh tokoh budaya nasional KH. D. Zawawi Imron, yang kehadirannya memberi warna spiritual dan kultural dalam dialog kebangsaan tersebut. Suasana haru tercipta saat sang penyair membacakan puisi-puisi bertema ibu pertiwi dan alam yang nyaris rusak.
Kuliah Umum ini pun melebihi ekspektasi: bukan sekadar forum akademik, tetapi simbol kebangkitan Madura sebagai pusat pemikiran kebangsaan. UNIJA telah membuktikan, bahwa dari bumi garam, bisa lahir gagasan emas yang menggetarkan republik. (REDJAVA****)









