JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sehari menjelang Lebaran Ketupat, suasana di Pasar Anom Baru Sumenep berubah menjadi lautan aktivitas.
Warga dari berbagai penjuru berdatangan, memadati setiap sudut pasar demi satu kebutuhan yang sama: berburu kulit ketupat untuk menyambut tradisi yang telah mengakar turun-temurun.
Deretan pedagang musiman tampak memenuhi sepanjang trotoar. Anyaman janur yang tersusun rapi menjadi pemandangan dominan, menawarkan solusi praktis bagi masyarakat yang ingin menyiapkan hidangan tanpa harus menganyam sendiri.
Transaksi berlangsung cepat, tawar-menawar terdengar bersahutan, menciptakan ritme khas pasar tradisional yang hidup.
Di Kabupaten Sumenep, Lebaran Ketupat bukan sekadar perayaan kuliner. Ia menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial melalui tradisi ater-ater atau arebbe mengantarkan hidangan ke tetangga dan kerabat sebagai wujud kebersamaan dan kepedulian.
“Setiap Lebaran Ketupat saya selalu datang ke sini, karena lebih praktis beli yang sudah jadi dibanding harus menganyam sendiri,” ujar Yuli, Jum’at (27/03/2026).
Menurutnya, tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun ini membuat persiapan harus dilakukan sejak jauh hari agar pelaksanaannya berjalan lancar.
Selain untuk kebutuhan keluarga, ketupat juga menjadi bagian penting dalam budaya berbagi kepada sesama.
“Apalagi besok sudah mulai tradisi ater-ater, jadi dari sekarang harus dipersiapkan supaya bisa berbagi dengan keluarga dan tetangga,” tambahnya.
Lonjakan permintaan turut mendorong kenaikan harga. Satu ikat kulit ketupat berisi 10 buah kini dijual antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, bergantung pada ukuran dan kualitas janur.
Meski demikian, tingginya harga tidak mengurangi minat masyarakat. Bagi para pedagang, momen ini menjadi berkah musiman yang dinantikan setiap tahun.
Iin, salah satu penjual, mengaku dagangannya laris manis sejak beberapa hari terakhir.
“Menjelang Lebaran Ketupat seperti ini, pembeli ramai sekali dibanding hari biasa,” kata Iin.
Ia menyebut, meningkatnya permintaan membuat stok dagangan harus terus ditambah agar dapat memenuhi kebutuhan pembeli yang datang silih berganti sejak pagi hingga siang hari.
“Banyak yang cari yang sudah jadi, jadi dagangan cepat habis,” ungkapnya.
Di tengah padatnya aktivitas dan meningkatnya harga, semangat masyarakat tetap terjaga.
Lebaran Ketupat kembali menjadi ruang perjumpaan bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang merawat tradisi, memperkuat silaturahmi, dan menjaga identitas budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Sumenep. (REDJAVA****)












