JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Asap mengepul dari mangkuk-mangkuk kaldu kokot yang tersaji di Warung Kaldu Kokot, Jalan Raya Gapura, Desa Parsanga.
Aroma khasnya menguar, menggugah selera, dan membawa kehangatan di tengah kebersamaan yang sarat makna. Di tempat inilah, Kamis (27/02/2025), dalam sebuah tasyakuran, bukan sekadar untuk menyantap kuliner kebanggaan Madura, tetapi juga untuk merayakan awal era baru kepemimpinan.
Acara ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas pelantikan Dr. H. Achmad Fauzi Wongsojudo, SH, MH dan KH. Imam Hasyim, SH, MH sebagai Bupati dan Wakil Bupati Sumenep periode 2025-2030.
Diinisiasi oleh Ketua Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi (GNPK) Sumenep, Anang Hendro Prasetyo dan didukung oleh pengusaha keris asal Aengtongtong R.
Ketua GNPK Sumenep Anang Hendro Prasetyo mengatakan tasyakuran ini bukan sekadar perjamuan biasa, tetapi sebuah simbol kuat akan harapan rakyat terhadap kepemimpinan yang jujur, transparan, dan berpihak kepada wong cilik.
“Ini lebih dari sekadar syukuran. Ini adalah doa bersama agar Sumenep benar-benar melangkah menuju pemerintahan yang bersih, adil, dan berintegritas,” ujar Anang Hendro, penuh optimisme kepada media ini.
Pemilihan warung kaldu kokot sebagai tempat tasyakuran bukan tanpa alasan.
Kuliner khas ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak Desember 2021, menjadi simbol kebersamaan, ketekunan, dan kearifan lokal.

Seperti kaldu kokot yang kaya rempah dan membutuhkan waktu lama untuk menghasilkan cita rasa sempurna, kepemimpinan pun menuntut kesabaran, kebijaksanaan, dan kerja keras agar menghasilkan kebijakan yang benar-benar dirasakan rakyat.
Tasyakuran ini dihadiri oleh rekan-rekan yang datang bukan hanya untuk menikmati semangkuk kaldu kokot, tetapi juga membawa harapan besar untuk perubahan yang lebih baik.
Di tengah hidangan yang menghangatkan tubuh dan kebersamaan yang menghangatkan hati, satu pesan mengemuka: rakyat Sumenep mendambakan pemimpin yang bukan hanya dekat secara seremonial, tetapi juga hadir dalam kebijakan nyata.
Mengakhiri acara, Anang Hendro mengajak semua yang hadir untuk menundukkan kepala, memanjatkan doa bersama.
“Semoga kepemimpinan ini menjadi berkah, membawa kesejahteraan, dan benar-benar menjadi milik rakyat. Ini bukan hanya perayaan, melainkan langkah awal menuju perjalanan panjang menuju Sumenep yang lebih baik,” ungkapnya.
Tasyakuran ini bukan hanya tentang menikmati sajian kuliner khas, tetapi juga menjadi momentum refleksi dan harapan.
“Politik sejatinya bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan pengabdian bagi rakyat,” pungkas Anang.
Sumenep hari ini mencatat sejarah baru. Harapan telah dipanjatkan. Asa telah digantungkan. Kini, masyarakat menanti langkah nyata dari pemimpin baru yang telah diberikan amanah. (REDJAVA****)












