JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Dari sebuah pulau yang jauh dari hiruk-pikuk kota, langkah kecil namun berdampak besar lahir.
Lapas Kelas III Arjasa di Kabupaten Sumenep membuktikan bahwa pemasyarakatan tak sekadar soal pembinaan di balik jeruji, melainkan juga tentang menjaga nyala kehidupan di luar tembok penjara.
Momentum Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62 menjadi titik balik hadirnya program inovatif: pemberian gerobak usaha bagi keluarga warga binaan.
Program ini bukan sekadar bantuan fisik, tetapi simbol kehadiran negara dalam ruang-ruang paling rentan.
Kepala lapas III Arjasa, Ristanto Rachmad Hidayat, menegaskan bahwa pendekatan ini dirancang untuk menjawab persoalan nyata yang kerap luput dari perhatian.
“Kami tidak ingin pembinaan berhenti di dalam lapas. Keluarga warga binaan juga harus tumbuh, harus bertahan, bahkan berkembang secara ekonomi,” kata Ristanto Rachmad Hidayat, Selasa (28/04/2026).
Di balik setiap jeruji, ada keluarga yang menunggu sering kali dalam kondisi ekonomi yang terhimpit.
Kehilangan sosok pencari nafkah membuat banyak keluarga terancam kehilangan pijakan hidup. Di sinilah program ini hadir sebagai jawaban.
Gerobak-gerobak usaha itu diserahkan langsung kepada para penerima dalam suasana hangat penuh harapan.
Bukan sekadar simbolik, melainkan awal dari perjalanan baru menuju kemandirian.
“Dengan gerobak ini, kami ingin membuka peluang. Mereka bisa memulai usaha kecil, berdagang, dan kembali memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bantuan ekonomi, program ini mencerminkan wajah baru pemasyarakatan lebih manusiawi, lebih inklusif, dan lebih menyentuh akar persoalan sosial.
“Ini adalah bentuk nyata kehadiran negara. Kami ingin memastikan bahwa keluarga warga binaan tidak merasa ditinggalkan,” tambah Ristanto Rachmad Hidayat.
Langkah ini sekaligus mempertegas bahwa sistem pemasyarakatan modern tidak hanya berorientasi pada individu yang menjalani hukuman, tetapi juga pada ekosistem sosial yang mengitarinya.
Harapannya, gerobak usaha ini tidak berhenti sebagai bantuan sesaat. Ia diharapkan menjadi pemantik perubahan jangka panjang menggerakkan roda ekonomi keluarga, menumbuhkan semangat mandiri, dan membangun kembali harapan yang sempat redup.
“Kami berharap bantuan ini dimanfaatkan sebaik mungkin. Ini bukan akhir, tapi awal kebangkitan ekonomi keluarga warga binaan,” tutup Ristanto penuh optimisme.
Dari pulau terpencil di Sumenep, pesan kuat itu menggema: bahwa keadilan tidak hanya menghukum, tetapi juga memulihkan bahkan hingga ke meja makan keluarga yang ditinggalkan. (REDJAVA****)












