JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 0,19 persen pada Februari 2025, meski beberapa kelompok pengeluaran mengalami penurunan harga signifikan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di angka 108,53, dengan tingkat deflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,17 persen dan deflasi sepanjang tahun berjalan (year to date/y-to-d) sebesar 1,08 persen.
Kepala BPS Sumenep, Joko Santoso, mengungkapkan bahwa inflasi tahunan ini didorong oleh kenaikan harga di sejumlah sektor.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa lainnya mencatat kenaikan tertinggi, yaitu 12,72 persen. Salah satu faktor utamanya adalah lonjakan harga perhiasan emas yang naik 1,04 persen,” ujarnya, Selasa (10/3/2025).
Selain itu, kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran juga mengalami kenaikan sebesar 2,37 persen, disusul kelompok pendidikan (1,70 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (1,48 persen), serta transportasi (1,07 persen).
Sektor lain yang turut berkontribusi terhadap inflasi adalah kesehatan (0,57 persen), perlengkapan rumah tangga (0,89 persen), serta pakaian dan alas kaki (1,57 persen).
“Namun, yang menarik, meski tarif listrik mengalami penurunan signifikan, inflasi tetap terjadi,” ungkapnya.
Data BPS menunjukkan bahwa kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga justru turun hingga 19,21 persen.
“Penurunan ini terutama disebabkan oleh adanya diskon tarif listrik, baik bagi pelanggan pascabayar maupun prabayar,” jelas Joko.
Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami penurunan sebesar 0,41 persen.
Joko menegaskan bahwa meski mengalami inflasi, angka ini masih berada jauh di bawah target nasional yang ditetapkan pemerintah, yakni 2,5 persen ±1 persen.
“Dengan inflasi tahunan hanya 0,19 persen, Sumenep masih dalam kondisi ekonomi yang stabil dan terkendali,” tegasnya.
Meski demikian, para pelaku usaha dan masyarakat tetap diimbau untuk mencermati dinamika harga ke depan, terutama menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri yang kerap menjadi faktor pemicu inflasi musiman.
“BPS Sumenep berjanji akan terus memantau perkembangan harga untuk memastikan stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga,” pungkasnya.
Situasi ini tentu menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan, terutama dalam menjaga daya beli masyarakat.
Jika tekanan inflasi terus berlanjut, strategi pengendalian harga dan kebijakan ekonomi daerah harus segera disiapkan. (REDJAVA****)









