JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sektor tembakau yang menjadi tulang punggung ekonomi ribuan petani di Kabupaten Sumenep diprediksi akan mengalami pemulihan signifikan pada musim tanam tahun 2026 ini.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, menyuarakan keyakinan tinggi angka luas lahan tanam akan kembali naik, setelah sempat terhambat gangguan cuaca pada tahun sebelumnya.
Kenaikan optimisme ini berlandaskan pada ketersediaan sumber air yang cukup merata di wilayah pertanian, serta prakiraan pola cuaca yang jauh lebih bersahabat dibanding periode lalu. Kondisi ini dianggap momen tepat bagi petani untuk memaksimalkan penggunaan lahan garapan mereka.
“Alhamdulillah, petani Sumenep sudah sigap memanfaatkan musim yang ada untuk menanam berbagai komoditas unggulan, salah satunya tembakau. Harapan kami sederhana: hasil panen melimpah, harga jual stabil tinggi, sehingga kesejahteraan petani benar-benar meningkat nyata.” kata Chainur Rasyid, Rabu (15/07/2027).
Catatan data DKPP mencatat, pada musim tanam 2025 luas lahan tembakau yang berhasil digarap hanya mencapai 14.000 hektar. Angka ini merosot jauh dibanding tahun 2024 yang tembus 18.000 hektar. Namun, penurunan itu ditegaskan bukan karena berkurangnya minat petani pada komoditas andalan daerah tersebut.
“Perlu kami luruskan: penurunan luas lahan tahun lalu sama sekali bukan karena petani beralih profesi atau tak lagi berminat menanam tembakau. Faktor tunggal penyebabnya adalah cuaca yang tidak berpihak.” ujarnya.
Kemarau basah yang terjadi sepanjang tahun 2025 disebut menjadi alasan utama petani tidak bisa membuka lahan secara maksimal. Untuk mengantisipasi hal serupa terulang, DKPP Sumenep menempatkan seluruh jajaran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang tersebar di setiap kecamatan untuk melakukan pendampingan tanpa henti.
“Pendampingan kami lakukan setiap hari tanpa jeda. Di setiap wilayah sudah ada penyuluh yang bertugas memantau langsung, mulai dari tahap persiapan benih, penanaman, perawatan tanaman, hingga saat masa panen tiba nanti.” jelas Inung sapaannya.
Selain bantuan teknis di lapangan, para penyuluh juga membawa pembaruan cara bertani. Petani kini diajarkan pola budidaya yang fleksibel dan disesuaikan dengan perubahan iklim yang kerap tidak menentu, agar produktivitas tembakau Sumenep tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya.
Lebih jauh, Chainur Rasyid berharap musim tanam 2026 ini menjadi titik balik kebangkitan komoditas tembakau yang identik dengan wilayah “Kota Keris” ini. Pemerintah daerah memastikan terus berdiri di samping petani demi mengembalikan kejayaan tembakau Sumenep.
“Kami berharap tahun ini menjadi momen pemulihan total. Jika cuaca mendukung, luas lahan bertambah, hasil panen melimpah, dan harga jual kompetitif, maka pendapatan petani otomatis akan naik dan taraf hidup mereka akan lebih baik.” pungkasnya.












