JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sebuah angin segar berhembus dari dunia pendidikan pesantren di ujung timur Madura.
Kabupaten Sumenep, yang dikenal sebagai Kota Keris, kini menoreh sejarah baru melalui peluncuran program bertajuk Layanan PSP (Pesantren Sharing & Peduli).
Program ini resmi diperkenalkan pada Senin (5/5/2025) oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Abdul Wasid, bertempat di Aula Pondok Pesantren Assadad, Kecamatan Ambunten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hadir dalam acara ini Kasi PD. Pontren, Zainurrosi, serta tuan rumah yang juga Pengasuh Pondok, KH. Muhammad Thaifur Aliwafa.
Layanan PSP hadir sebagai bentuk konkret kepedulian terhadap maraknya isu kekerasan, bullying, serta berbagai bentuk pelecehan di lingkungan pendidikan keagamaan.
Program ini tidak hanya mendorong penanganan, tetapi lebih dari itu: membangun ekosistem pesantren yang sehat, inklusif, dan penuh kasih.
“PSP bukan sekadar program administratif. Ia adalah komitmen moral kami menjaga pesantren tetap menjadi ruang suci yang menumbuhkan akhlak, bukan menyuburkan luka,” kata Abdul Wasid dalam sambutannya.
Dirancang dan diinisiasi oleh Seksi PD. Pontren Kemenag Sumenep, layanan ini telah mendapat restu penuh dari kepala Kemenag dan dikembangkan melalui kolaborasi strategis bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) serta Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Cabang Sumenep.
Melalui pendekatan terintegrasi antara nilai-nilai keagamaan dan pendampingan psikologis profesional, PSP membuka ruang konseling, edukasi, serta jalur pelaporan aman yang bisa diakses oleh para santri dan pengasuh.
“Budaya diam yang selama ini kerap menjadi tembok kekerasan, diubah menjadi budaya berbagi, peduli, dan saling menjaga,” tutupnya.
Sementara KH. Muhammad Thaifur Aliwafa, sebagai pengasuh Ponpes Assadad, menyambut hangat hadirnya layanan ini.
“PSP adalah bentuk cinta terhadap generasi kita. Santri tidak cukup hanya pintar, tapi juga harus merasa aman. Dan pesantren, harus menjadi rumah yang benar-benar rumah melindungi, bukan melukai,” ujarnya.
Dalam praktiknya, PSP akan melibatkan berbagai pelatihan, asesmen psikososial, hingga evaluasi rutin terhadap kualitas lingkungan asuh di pesantren.
Pelaksanaan program ini juga ditargetkan bisa direplikasi di berbagai lembaga keagamaan lain di Kabupaten Sumenep, bahkan di wilayah Madura dan Jawa Timur.
Langkah berani dan inovatif Kemenag Sumenep ini pun dinilai oleh berbagai kalangan sebagai wujud nyata dari transformasi pelayanan keagamaan yang tak hanya berorientasi pada doktrin, tetapi juga pada pemulihan jiwa dan martabat manusia.
Dengan PSP, Sumenep mengirim pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: pesantren bukan benteng yang membungkam, tapi taman yang memeluk dan merawat. (REDJAVA/Ss****)









