JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tim Program Kosabangsa Universitas Wiraraja (UNIJA) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi biru (blue economy) berbasis masyarakat pesisir.
Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk “Pengembangan Blue Economy Inklusif melalui Pemberdayaan Masyarakat Miskin Ekstrem di Desa Tanjung: Penerapan Teknologi dengan Sistem Rotary Bucket pada Usaha Rumput Laut dan Eco-Wisata Pesisir”, tim pelaksana melakukan pendampingan sekaligus penerapan teknologi tepat guna berupa sistem Rotary Bucket pada kelompok petani rumput laut Rejeki Barokah di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Wiraraja (UNIJA) dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendikbudristek Tahun 2025. Program ini tercatat melalui nomor kontrak 232/C3/DT.05.00/PM-KOSABANGSA/2025, 004/LL7/DT.05.00/PM-KOSABANGSA/2025, dan 084/LPPM/PP-04/E.02/UNIJA/VIII/2025.
Tim pelaksana dari Universitas Wiraraja terdiri atas Moh. Baqir Ainun, S.E., M.A., Evi Dwi Hastri, S.H., M.H., CPM., dan Ir. Fatmawati, M.P.. Sementara dari Universitas Negeri Surabaya sebagai tim pendamping adalah Dr. Mochamad Arif Irfa’i, S.Pd., M.T., Prof. Dr. Any Sutiadiningsih, M.Si., dan Ir. Wahyu Dwi Kurniawan, S.Pd., M.Pd.
Fokus utama kegiatan kali ini adalah penerapan dan pelatihan penggunaan teknologi tepat guna (TTG) dengan sistem Rotary Bucket alat pengering rumput laut berbasis motor listrik yang efisien, higienis, dan ramah lingkungan. Teknologi ini menjadi solusi atas masalah klasik petani rumput laut yang selama ini sangat bergantung pada panas matahari untuk proses pengeringan.
Selama ini, ketergantungan pada cuaca kerap membuat hasil panen gagal kering sempurna. Rumput laut yang membusuk, tumbuh jamur, atau mengalami penurunan kualitas menjadi kendala utama. Melalui sistem Rotary Bucket, proses pengeringan kini bisa dilakukan kapan saja dengan hasil yang merata, cepat, dan bebas kontaminasi biologis.
Secara teknis, alat Rotary Bucket bekerja dengan memutar silinder berbahan stainless steel menggunakan motor listrik bertenaga 1 HP. Proses pemanasan dilakukan tidak langsung melalui burner gas LPG yang menjaga kestabilan suhu, sehingga nutrisi rumput laut tetap terjaga.
Udara panas disirkulasikan ke dalam drum menggunakan blower dan saluran udara tahan panas, sementara panel kontrol digital memungkinkan pengguna mengatur suhu, kecepatan putar, dan waktu pengeringan secara presisi. Menariknya, sistem ini hanya membutuhkan daya listrik rumah tangga (220 volt) dan tergolong hemat energi cocok untuk usaha kecil menengah di wilayah pesisir.
Penerapan teknologi Rotary Bucket membawa dampak signifikan bagi kelompok petani rumput laut Rejeki Barokah. Kini, mereka tak lagi bergantung pada kondisi cuaca untuk menjemur hasil panen. Proses pengeringan menjadi lebih cepat, higienis, dan menghasilkan kadar air yang stabil. Dampaknya, mutu produk meningkat dan nilai jual pun ikut naik.
“Selama ini, petani sangat bergantung pada panas matahari. Dengan sistem Rotary Bucket, proses pengeringan dapat dilakukan kapan saja tanpa hambatan. Selain efisien, hasilnya juga lebih berkualitas dan bernilai jual lebih tinggi,” kata Moh. Baqir Ainun, S.E., M.A., Ketua Tim Pelaksana dari Universitas Wiraraja, Rabu (05/11/2025)
Sementara itu, Dr. Mochamad Arif Irfa’i, S.Pd., M.T., selaku Ketua Pendamping dari Universitas Negeri Surabaya, menegaskan bahwa penerapan teknologi ini merupakan wujud nyata kolaborasi perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat pesisir.
“Teknologi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga pemberdayaan. Kami ingin masyarakat menjadi pengguna sekaligus pengelola teknologi yang mereka butuhkan. Inilah esensi dari program Kosabangsa sinergi antara inovasi kampus dan kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.
Dengan hadirnya alat Rotary Bucket, produktivitas petani rumput laut di Desa Tanjung meningkat hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya. Kualitas hasil panen yang lebih baik juga membuka peluang diversifikasi produk, seperti camilan berbasis rumput laut, bubuk agar-agar, hingga minuman olahan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara riset, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat mampu menciptakan model ekonomi biru yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan di pesisir Kabupaten Sumenep. (REDJAVA****)












