Mertè Kamardhika’an di Desa Paberasan: Malam Tawasul Kemerdekaan RI ke-80 Disulap Jadi Gerakan Hijau dengan 5.000 Pohon Alpukat

Sabtu, 30 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mertè Kamardhika’an di Desa Paberasan: Malam Tawasul Kemerdekaan RI ke-80 Disulap Jadi Gerakan Hijau dengan 5.000 Pohon Alpukat

Mertè Kamardhika’an di Desa Paberasan: Malam Tawasul Kemerdekaan RI ke-80 Disulap Jadi Gerakan Hijau dengan 5.000 Pohon Alpukat

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEPDesa Paberasan, Kecamatan Kota Sumenep, kembali menorehkan sejarah kecil yang sarat makna. Sabtu malam (30/08/2025), lebih dari 210 warga bersama jajaran tokoh penting menghadiri Malam Tawasul Kemerdekaan RI ke-80 yang dikemas dengan Launching Program Paberasan Parjughâ (Program Aksi Revitalisasi Jagat Hijau dengan Alpukat).

Dengan mengusung tema “Mertè Kamardhika’an”, acara ini bukan hanya sekadar peringatan hari kemerdekaan, tetapi juga deklarasi besar sebuah gerakan hijau yang menargetkan penanaman 5.000 pohon alpukat di seluruh pelosok desa.

Sejak pukul 19.30 WIB, suasana syahdu menyelimuti arena kegiatan. Acara dibuka dengan tawasul untuk para pendiri bangsa, pahlawan kemerdekaan, dan para pemimpin Indonesia, yang dipimpin KH. Rahmawi. Dilanjutkan dengan pembacaan Pancasila, UUD 1945, serta doa bersama. Lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan penuh semangat menambah suasana haru sekaligus membangkitkan gelora nasionalisme di hati warga.

Baca Juga :  Kasat Lantas Polres Sumenep Jadi Irup HUT RI ke-80 di SMAN 1, Pesan Kapolres: Jadilah Generasi Disiplin dan Berprestasi

Hadir dalam kesempatan itu Camat Kota Sumenep beserta istri, Danramil Kota, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, tokoh agama, Ketua RT/RW, serta ratusan warga desa yang larut dalam kebersamaan.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Paberasan Rachman Saleh mengajak masyarakat untuk memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam.

“Mari kita isi kemerdekaan dengan karya-karya positif yang berdampak langsung terhadap kemaslahatan orang banyak,” ujarnya tegas.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa Paberasan Parjughâ lahir sebagai jawaban atas dua tantangan zaman sekaligus: krisis lingkungan dan tantangan ekonomi rakyat.

“Kalau setiap rumah tangga menanam tiga pohon alpukat, bayangkan lima tahun ke depan. Desa kita bukan hanya hijau dan asri, tapi juga punya sumber penghasilan tambahan dari hasil panen alpukat. Inilah cara kami mengisi kemerdekaan: kerja nyata, yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya.

Rachman Saleh juga mengingatkan agar gerakan ini tidak berhenti di seremoni.

Baca Juga :  Sinergitas TNI-Polri Serta Masyarakat Bali Siap Amankan KTT AIS Forum 2023

“Launching ini hanyalah awal. Yang lebih penting adalah merawat hingga berbuah dan memberi hasil. Kita ingin gerakan ini diwariskan kepada anak cucu, bukan sekadar catatan dalam arsip desa,” tambahnya dengan penuh harap.

Puncak acara terjadi saat maskot Parjughâ memasuki arena membawa simbol buah alpukat dan padi. Kedua simbol itu kemudian diserahkan kepada Kepala Desa sebagai lambang keberlanjutan kehidupan.

Dilanjutkan dengan pembagian bibit alpukat kepada para Ketua RT, disusul penanaman perdana pohon alpukat oleh Kepala Desa, perangkat desa, dan masyarakat. Suasana riuh penuh semangat menyelimuti prosesi tersebut.

Skema program ini sederhana namun ambisius: setiap kepala keluarga menanam minimal tiga pohon. Jika berjalan sesuai rencana, 5.000 pohon alpukat akan tumbuh di Desa Paberasan, menjadi penopang ekologi sekaligus sumber ekonomi baru.

Baca Juga :  Peringatan Maulid Nabi di Masjid Jamik, Bupati Fauzi dan Ketua Takmir Kompak Serukan Persatuan Ummat

Camat Kota Sumenep Yudi Nursukmadyanto, S.STP., MM dalam sambutannya memberikan pujian tinggi kepada Desa Paberasan.

“Paberasan selalu menjadi desa yang luar biasa dengan program-programnya yang inovatif. Semoga desa lain juga bisa mengikuti dan mengimbangi langkah positif ini,” ungkapnya.

Acara ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah penuh kekeluargaan. Namun gema malam itu terasa lebih panjang dari sekadar ritual tahunan. Mertè Kamardhika’an di Desa Paberasan menjadi bukti bahwa kemerdekaan bisa dimaknai dengan kerja kolektif: menanam pohon, merawat lingkungan, dan menumbuhkan ekonomi warga.

Malam itu, Desa Paberasan tidak hanya memperingati kemerdekaan, tetapi juga menanam harapan baru sebuah warisan hijau untuk anak cucu, sebuah karya nyata yang bisa dicatat sebagai langkah maju desa kecil yang berpikir besar. (REDJAVA****)

Berita Terkait

Masih Ada ASN Tak Pakai Peci Hitam, Sekdakab Sumenep Kembali Ingatkan Instruksi Bulan Bung Karno
Perhatian Bupati Fauzi untuk Petani Tembakau Sumenep, Doakan Panen Sukses dan Kesejahteraan Meningkat
Dari Silaturahmi hingga Aksi Kemanusiaan, Forsekdesi Sumenep Perkuat Peran Organisasi
Polisi Ganding Bergerak Cepat, Pelaku Sabu Ditangkap di Pinggir Jalan Desa Ketawang Larangan
Dukungan TNI di Soekarno Fun Run 2026, Danyonif TP 931/KJ Hadir di Tengah Ribuan Warga Sumenep
Jamaah Haji Indonesia Asal Sumenep Minta Evaluasi Total, Kualitas Katering dan Transportasi di Tanah Suci Dikeluhkan
Soekarno Fun Run 2026 Sumenep Sukses Digelar, Ini Daftar Lengkap Para Juara di Semua Kategori
Ribuan Peserta Banjiri Soekarno Fun Run Sumenep 2026, Semangat Nasionalisme dan Gaya Hidup Sehat Bergema

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 08:55 WIB

Masih Ada ASN Tak Pakai Peci Hitam, Sekdakab Sumenep Kembali Ingatkan Instruksi Bulan Bung Karno

Minggu, 14 Juni 2026 - 22:41 WIB

Perhatian Bupati Fauzi untuk Petani Tembakau Sumenep, Doakan Panen Sukses dan Kesejahteraan Meningkat

Minggu, 14 Juni 2026 - 18:02 WIB

Dari Silaturahmi hingga Aksi Kemanusiaan, Forsekdesi Sumenep Perkuat Peran Organisasi

Minggu, 14 Juni 2026 - 16:20 WIB

Polisi Ganding Bergerak Cepat, Pelaku Sabu Ditangkap di Pinggir Jalan Desa Ketawang Larangan

Minggu, 14 Juni 2026 - 14:01 WIB

Dukungan TNI di Soekarno Fun Run 2026, Danyonif TP 931/KJ Hadir di Tengah Ribuan Warga Sumenep

Berita Terbaru