JAVANETWORK.CO.ID.MAKKAH – Sejumlah jamaah haji Indonesia mulai menyampaikan berbagai catatan evaluasi terkait pelayanan selama menjalankan ibadah haji 2026 di Arab Saudi. Keluhan tersebut mencakup kualitas katering, layanan transportasi pada fase puncak ibadah haji (Armuzna), hingga kondisi kebersihan hotel yang ditempati jamaah di Madinah.
Salah seorang jamaah asal Sumenep, Madura, Jawa Timur, H. Musahnan, mengaku kecewa terhadap sejumlah layanan yang diterimanya selama berada di Tanah Suci. Menurutnya, beberapa aspek pelayanan yang menjadi hak jamaah masih belum memenuhi harapan.
Keluhan pertama berkaitan dengan penyediaan makanan bagi jamaah Indonesia. Ia menilai cita rasa masakan yang disajikan belum mencerminkan karakteristik kuliner Nusantara yang selama ini menjadi kebutuhan mayoritas jamaah Indonesia.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menu makanan yang disajikan kurang memiliki cita rasa bumbu Nusantara yang akrab dengan lidah jamaah Indonesia. Selain itu, kami juga jarang menemukan menu ikan laut, padahal itu menjadi salah satu harapan jamaah selama berada di Tanah Suci,” kata H. Musahnan, jamaah asal Sumenep, Jawa Timur kepada media ini, Minggu (14/06/2025) waktu setempat.
Selain katering, persoalan transportasi selama pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) juga menjadi sorotan. Jamaah mengaku harus menghadapi kondisi yang cukup melelahkan akibat keterbatasan armada maupun padatnya mobilitas pada puncak pelaksanaan ibadah haji.
“Pelayanan transportasi saat Armuzna sangat melelahkan. Banyak jamaah yang harus menunggu cukup lama dalam kondisi cuaca panas dan kepadatan yang tinggi. Hal ini tentu membutuhkan perhatian serius dari penyelenggara,” ujarnya tegas.
Tak hanya itu, kondisi akomodasi di Madinah juga menjadi bagian dari evaluasi yang disampaikan jamaah. Beberapa kamar hotel disebut masih ditemukan dalam kondisi kurang bersih sehingga mengurangi kenyamanan selama menjalankan rangkaian ibadah.
“Kami berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyedia katering, transportasi, maupun pengelola hotel. Jamaah telah mengeluarkan biaya yang besar untuk menunaikan ibadah haji sehingga berhak mendapatkan pelayanan yang layak dan berkualitas,” tutup H. Musahnan.
Menurut H. Musahnan, berbagai keluhan yang disampaikan bukan semata-mata kritik, melainkan bentuk kepedulian agar kualitas penyelenggaraan ibadah haji Indonesia terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
Ia juga mendorong pemerintah untuk melakukan audit dan survei ulang terhadap seluruh mitra penyedia layanan yang terlibat dalam operasional haji, mulai dari katering, transportasi, hingga akomodasi. Evaluasi menyeluruh dinilai penting untuk memastikan standar pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan jamaah Indonesia.
Pengamat pelayanan publik menilai masukan dari jamaah merupakan bagian penting dalam proses peningkatan kualitas penyelenggaraan ibadah haji. Setiap keluhan yang muncul di lapangan perlu ditindaklanjuti secara objektif dan profesional agar pelaksanaan haji Indonesia ke depan semakin aman, nyaman, dan memberikan pengalaman ibadah yang lebih baik bagi seluruh jamaah.
Dengan jumlah jamaah Indonesia yang mencapai ratusan ribu orang setiap tahunnya, peningkatan kualitas pelayanan haji menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama. Pemerintah diharapkan menjadikan berbagai masukan dari jamaah sebagai bahan evaluasi untuk mewujudkan pelayanan haji yang lebih optimal, transparan, dan berorientasi pada kepuasan jamaah. (REDJAVA****)








