JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Suara tepuk tangan pecah di ruang auditorium Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sumenep, Rabu (11/11/2025).
Di hadapan puluhan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, sembilan mahasiswa muda Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep naik ke panggung kehormatan.
Mereka baru saja diumumkan sebagai Juara 1 dalam ajang Workshop dan Short Film Competition Diskominfo Sumenep 2025.
Dengan tema besar “Dari Akar Tradisi Menuju Layar Digital”, tim mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unija itu berhasil menyingkirkan puluhan finalis lewat karya film pendek bertajuk “Menyulam Cahaya.”
Film berdurasi belasan menit itu bercerita tentang pergulatan anak muda Sumenep dalam menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus digitalisasi.
Narasinya lembut, tapi menampar: tradisi bukanlah benda mati yang tergerus zaman, melainkan denyut identitas yang bisa menembus ruang digital dengan wajah baru.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi bukan penghalang bagi tradisi, tetapi jembatan untuk mengenalkannya ke dunia yang lebih luas,” kata Moh. Nurul Hakim, ketua tim kreatif yang memimpin produksi Menyulam Cahaya, kepada media ini.
Selain Nurul Hakim, tim kreatif ini digawangi oleh Andika Priyas Prayoga, Moh. Reihan Eka Firdaus, Surayni Ayu Nazirah, Ibnu Nadiful Fuad, Firman Hidayat, Moh. Rofiqi, Ach. Juni Andika Fadiansyah, dan Erigina Alisiyah Firmani.
Juri menilai karya mereka unggul dari segi ide, sinematografi, dan kekuatan pesan budaya. Visualnya kuat, penokohannya hidup, dan pesan moralnya terasa modern tanpa menggurui.
“Film ini menjadi cerminan bagaimana generasi muda mampu meramu nilai tradisi menjadi karya digital yang bernilai tinggi,” kata salah satu juri dari Diskominfo Sumenep.
Kompetisi yang digagas Diskominfo Sumenep itu memang dirancang sebagai ruang bagi kreativitas digital yang berpijak pada akar budaya lokal.
Di tengah gempuran konten global dan tren instan, Menyulam Cahaya tampil sebagai oase mengingatkan publik bahwa budaya bisa tetap hidup, bahkan bersinar, lewat teknologi.
Prestasi ini disambut bangga oleh Ketua Program Studi DKV FISIP Unija, Anis Kurli, yang menyebut kemenangan tersebut sebagai bukti bahwa mahasiswa Unija bukan hanya kreatif, tetapi juga punya kesadaran budaya yang kuat.
“Kami selalu mendorong mahasiswa untuk menggali budaya lokal dan mengemasnya dalam karya kontekstual dengan era digital. Kemenangan ini membuktikan bahwa DKV Unija mampu bersaing secara nasional,” ungkap Anis Kurli.
Kemenangan mahasiswa DKV Unija tak sekadar soal piala. Ia menandai lahirnya gelombang baru kreativitas anak muda Sumenep yang tidak hanya berpikir visual, tapi juga berpikir nilai.
Sumenep kini bukan hanya dikenal dengan keindahan pantainya dan warisan kerisnya.
Melalui tangan-tangan muda di kampus Universitas Wiraraja, daerah ujung timur Madura ini menunjukkan bahwa budaya lokal bisa menjadi inspirasi global.
Karya Menyulam Cahaya kini ramai dibicarakan di berbagai platform digital. Warganet menilai film itu bukan sekadar tontonan, melainkan “pesan visual yang menyentuh akar.” Banyak yang menyebutnya layak tayang di festival film pendek nasional.
Dengan capaian ini, Universitas Wiraraja Sumenep kian mengukuhkan diri sebagai kampus yang melahirkan insan kreatif berkarakter budaya.
Dan bagi sembilan mahasiswa DKV itu, kemenangan ini baru langkah awal. Mereka telah membuktikan: dari akar tradisi, cahaya bisa disulam dan kini bersinar di layar digital nasional. (REDJAVA****)












