JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, Ahad (7/12/2025).
Forum strategis ini bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi ruang refleksi serius atas tantangan internal organisasi keumatan terbesar di Indonesia.
Dalam forum tersebut, Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir, menyampaikan peringatan keras mengenai potensi kerusakan organisasi jika NU abai terhadap nilai-nilai dasarnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengurai tiga indikator utama yang menurutnya dapat menjadi sumber kemunduran organisasi.
“Kalau NU sampai rusak, penyebabnya bukan karena kekuatan eksternal, tapi karena kita sendiri,” kata Kiai Matin di hadapan peserta Konfercab.
Indikator pertama, menurutnya, adalah ketimpangan antara ilmu dan pengamalan atau Yurzakul ‘Ilmi wa Yuhramul ‘Amal. Ia menyoroti banyaknya pengurus yang memahami teori dan aturan organisasi, namun tidak menerapkannya secara konsisten.
“Kita sering bicara sistem, pedoman, dan Perkum NU, tetapi tidak membaca apalagi menjalankannya. Padahal NU sudah sangat lengkap dalam mengatur organisasinya,” tegas pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban tersebut.
Indikator kedua ialah hilangnya keikhlasan dalam mengemban amanah, atau Yurzakul ‘Amal wa Yuhramul Ikhlas. Dalam konteks ini, Kiai Matin menyinggung praktik-praktik organisasi yang dijalankan atas dasar kepentingan pribadi, bukan khidmah.
“Organisasi bisa berjalan, tapi ruhnya mati ketika keikhlasan digantikan ambisi,” imbuhnya.
Adapun indikator ketiga adalah lunturnya rasa hormat kepada pimpinan, yang ia sebut dengan istilah Wa Yurzakuma Mahabbatus Sholihah. Menurutnya, NU akan mengalami keretakan serius jika adab terhadap kiai dan struktur kepemimpinan tidak lagi dijaga.
“Perbedaan kebijakan boleh, kritik sah, tapi adab dan penghormatan kepada pemimpin NU tidak boleh hilang,” ujarnya menegaskan.
Dalam konteks dinamika nasional NU, Kiai Matin juga mengingatkan pentingnya disiplin struktural. Ia meminta agar persoalan yang menjadi kewenangan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak ditarik ke ranah cabang maupun wilayah.
“Biarkan PBNU menyelesaikan urusannya. Tugas kita di bawah adalah menjalankan organisasi dengan tenang dan tetap fokus melayani umat,” tandasnya.
Konfercab PCNU Sumenep ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi organisasi NU di tingkat daerah, khususnya di tengah tantangan perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang kian kompleks.
Hadir mendampingi Kiai Matin dalam agenda tersebut Katib PWNU Jawa Timur KH Ahsanul Haq serta Sekretaris PWNU Jawa Timur M Faqih. Sejumlah kiai sepuh, pengurus MWCNU, badan otonom, dan tokoh pesantren se-Sumenep turut hadir dalam forum tersebut.
Konfercab ini diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan NU Sumenep yang solid, berintegritas, serta tetap berpijak pada khidmah dan nilai keikhlasan sebagai fondasi utama gerakan keumatan. (REDJAVA****)









