JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Di tengah gempuran zaman dan derasnya arus digital, Kabupaten Sumenep menyimpan luka sosial yang masih menganga: perkawinan anak.
Namun, dari balik kesunyian data dan statistik, terdengar seruan tulus dari seorang ibu bukan sembarang ibu tapi Ibu Kabupaten Sumenep itu sendiri.
Nia Kurnia Fauzi, Ketua Tim Penggerak PKK Sumenep, berdiri tegar di hadapan para kader PKK se-kabupaten.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bukan sekadar menyampaikan pidato seremonial, tetapi membacakan isi hatinya sebagai perempuan, ibu, dan penjaga masa depan generasi.
Di Gedung Korpri yang menjadi saksi pertemuan besar itu, Selasa (29/4), ia membuka luka kolektif yang selama ini nyaris dilupakan:
“Anak-anak kita sedang kehilangan masa kecil mereka karena praktik perkawinan dini yang belum sepenuhnya sirna,” kata Nia Kurnia Fauzi.
Nada suaranya bukan ancaman, bukan pula propaganda. Tapi jeritan hati yang menyimpan harapan: agar tidak ada lagi anak perempuan yang dipanggil ‘bu’, saat mereka bahkan belum sempat menyelesaikan bangku SMP.
“Perkawinan anak bukan hanya pelanggaran ha itu perampasan masa depan,” tegasnya.
Istri Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo itu menyebut dampaknya mengerikan: putus sekolah, rentan KDRT, beban ekonomi, dan trauma psikologis jangka panjang.
Namun, tak hanya bicara masalah, Mbak Nia sapaan akrabnya mengusung solusi berbasis komunitas: Sadel Cepak, Desa Model Pencegahan dan Penanganan Perkawinan Anak.
Sebuah inovasi lokal yang kini digadang menjadi pelita perubahan dari pelosok desa.
Data memang mulai berpihak. Dispensasi nikah di Sumenep menurun drastis: dari 2.029 kasus pada 2020, menjadi hanya 212 kasus di 2024.

Namun, bagi Mbak Nia, satu anak yang dikawinkan terlalu dini saja sudah cukup menjadi duka tak terampuni.
“Kita ingin Sumenep menjadi kabupaten nol persen perkawinan anak. Bukan sekadar slogan, tapi warisan nyata untuk generasi penerus,” ucapnya.
Gerakan ini bukan milik PKK semata. Ia mengajak semua pihak: guru di kelas, tokoh agama di mimbar, karang taruna di balai desa, hingga para ibu di posyandu, untuk membangun benteng moral bersama.
“Edukasi kecil di dapur-dapur rumah kita adalah revolusi diam yang akan mengguncang masa depan,” pungkasnya.
Seruan Mbak Nia hari itu bukan sekadar agenda organisasi. Ia telah menjadikan isu ini sebagai napas perjuangan.
Dan di balik semua angka dan grafik, ada wajah-wajah anak perempuan Sumenep yang kini menatap masa depan dengan lebih berani. Karena mereka tahu, ada seorang ibu yang berdiri untuk mereka. (REDJAVA****)









