JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP — Ada yang berbeda di Gili Genting, pulau kecil di selatan Kabupaten Sumenep, Madura.
Pulau yang selama ini identik dengan keterbatasan akses kesehatan itu, tiba-tiba menjadi panggung pengabdian para dokter spesialis dari rumah sakit terbesar di Jawa Timur.
Mereka datang bukan untuk studi banding atau riset, melainkan membawa misi kemanusiaan: mengobati yang terlupakan, menyentuh yang terpinggirkan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Adalah “Surgishare: Bakti Bedah untuk Gili Genting”, sebuah gerakan pengabdian yang diinisiasi oleh Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Kegiatan yang digelar selama dua hari, 31 Mei hingga 1 Juni 2025, ini bukan sekadar aksi sosial biasa.

Ini adalah kolaborasi ilmu, budaya, dan empati yang menyatu dalam bingkai pelayanan kesehatan yang merata dan berkeadilan.
“Kami ingin menghapus batas antara dokter dan rakyat. Ini tentang bagaimana ilmu kedokteran bisa menyentuh pulau-pulau yang selama ini tertinggal,” ujar dr. Fransisca Kusumawidagdo, SpBA, Supspec. Urogin Anak (K), Ketua Panitia Surgishare.
Hari pertama, suasana di Puskesmas Gili Genting mendadak hidup. Puluhan pasien datang membawa harapan, anak-anak digendong ibunya, lansia dibantu tongkat, semua menanti giliran untuk disaring tim dokter.
Dari proses skrining yang ketat, sembilan pasien dengan kasus-kasus bedah terpilih untuk langsung menjalani tindakan pembedahan di tempat.
Di tengah keterbatasan fasilitas, tim medis bergerak cekatan.

Mereka tak hanya membawa pisau bedah, tetapi juga membawa rasa hormat terhadap hidup dan kemanusiaan.
“Kami bukan datang membawa belas kasihan, tetapi membawa kepercayaan bahwa warga kepulauan pun berhak mendapatkan pelayanan medis terbaik,” tutup dr. Fransisca.
Esok harinya, kegiatan berlanjut di daratan Sumenep. Sebuah Funwalk digelar dari Hotel Myze menuju Pendopo Keraton Sumenep.
Namun ini bukan sekadar jalan sehat biasa. Para peserta, yang terdiri dari tenaga kesehatan, relawan, dan masyarakat umum, diajak menyusuri jejak sejarah dan budaya Sumenep, kota yang kaya akan tradisi kerajaan.
Dibalut semangat hidup sehat, kegiatan ini menjadi simbol bahwa kesehatan tidak hanya soal medis, tetapi juga menyangkut kesejahteraan sosial dan budaya masyarakat.
Sebagai penutup, digelar seminar ilmiah bertema bedah digestif, vaskuler, onkologi, kepala-leher, dan bedah anak.
Bertempat di Graha Bakti Husada RSUD dr. H. Moh. Anwar dan disiarkan daring, seminar ini diikuti oleh dokter-dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sumenep dan wilayah sekitarnya, termasuk dari pulau-pulau kecil yang selama ini jauh dari akses pendidikan kedokteran berkelanjutan.
Sementara itu dr. Rifmi Utami, M.Kes, Ketua IDI Cabang Sumenep, menegaskan pentingnya kegiatan ini:
“Ilmu itu tidak boleh terpusat. Dengan seminar ini, kami ingin memperkuat kemampuan dokter-dokter daerah agar bisa memberikan pelayanan terbaik di tempat mereka bertugas,” ungkap dr. Rifmi.
Tak bisa dipungkiri, suksesnya kegiatan ini tak lepas dari sinergi antar-lembaga. Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Sumenep turut memberikan dukungan penuh.

Sisi lain drg. Ellya Fardasah, M.Kes, selaku Kepala Dinkes sekaligus Plh. Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar, menyampaikan rasa bangga atas kolaborasi ini.
“Ini bukti bahwa ketika semua pihak bersatu rumah sakit provinsi, fasilitas kesehatan daerah, dan organisasi profesi maka pelayanan kesehatan yang inklusif dan merata bisa kita wujudkan,” tegas drg. Ellya.
Surgishare bukan hanya sekadar kegiatan sosial atau seminar ilmiah. Ia adalah simbol kebangkitan pelayanan kesehatan yang inklusif, jembatan antara pusat dan daerah, antara ilmu dan pengabdian.
Ia menjadi cermin bahwa dokter bukan hanya penyembuh luka fisik, tetapi juga penyejuk bagi keresahan sosial.
Gili Genting bukan lagi sekadar titik di peta. Ia kini menjadi saksi bahwa ketika hati dan ilmu bertemu, batas-batas geografis tak lagi menjadi halangan untuk merawat kemanusiaan. (REDJAVA****)









