JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ramadan di SDN Pakandangan Sangrah, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, tahun ini terasa berbeda.
Bukan sekadar kegiatan seremonial pesantren kilat, sekolah ini menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna: mengajak para siswa memahami arti berbagi melalui praktik langsung produksi hingga distribusi zakat.
Suasana religius sudah terasa sejak hari pertama kegiatan. Di halaman sekolah yang sederhana, para siswa memulai hari dengan salat Dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sesekali, mereka juga diajak menyimak kisah inspiratif tentang Ramadan melalui kegiatan nonton bareng yang sarat nilai keteladanan.

Namun lebih dari itu, pesantren kilat di sekolah ini tidak berhenti pada kegiatan spiritual semata.
Memasuki hari kedua, sekolah menggelar Festival Ramadan yang diikuti seluruh siswa. Siswa kelas tinggi beradu kemampuan dalam lomba tahfidz Al-Qur’an, sementara siswa kelas rendah menunjukkan keberanian mereka dalam lomba adzan.
Riuh tepuk tangan dan semangat para siswa mewarnai setiap perlombaan, menjadikan kegiatan tersebut bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga ruang pembinaan mental spiritual sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri sejak dini.

Yang membuat program ini semakin menarik adalah keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan sosial.
Melalui program yang dikembangkan sekolah, para siswa belajar mengelola produksi hingga distribusi beras zakat untuk masyarakat.
Mulai dari menerima pesanan beras, mempromosikan program, hingga mengatur penjualan dan penyaluran, seluruh proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang mengintegrasikan kegiatan intra kurikuler dan ko-kurikuler.
Kepala SDN Pakandangan Sangrah, Susilawati, S.Pd, mengatakan bahwa kegiatan tersebut sengaja dirancang agar siswa tidak hanya memahami nilai berbagi secara teori, tetapi juga merasakannya secara langsung.

“Pesantren kilat ini kami rancang bukan sekadar kegiatan keagamaan. Kami ingin anak-anak merasakan pengalaman belajar yang nyata tentang bagaimana berbagi, bekerja sama, dan peduli kepada sesama,” kata Susilawati kepada media ini, Kamis (12/03/2026)
Menurutnya, keterlibatan siswa dalam setiap proses kegiatan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter mereka.
“Mulai dari proses pemesanan beras, promosi kegiatan, hingga penjualan semuanya dilakukan oleh siswa. Dengan cara ini, mereka belajar tentang tanggung jawab sekaligus memahami makna kepedulian sosial,” ujarnya.
Hasil dari proses pembelajaran tersebut pun terlihat nyata. Pada tahap distribusi pertama yang dilaksanakan Rabu, 11 Maret, para siswa berhasil menyalurkan 52 paket beras zakat kepada penerima manfaat di SMA 1 Bluto.

Bagi para siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman yang berkesan karena mereka terlibat langsung dalam proses berbagi kepada masyarakat.
“Alhamdulillah pada distribusi pertama kami berhasil menyalurkan 52 paket beras zakat. Ini adalah hasil kerja keras anak-anak yang belajar mengelola kegiatan secara mandiri,” ungkap Susilawati.
Program ini masih terus berlanjut. Pada hari berikutnya, sekolah merencanakan penyaluran 67 paket beras zakat ke wilayah Kapedi 1 dan Guluk Manjung 2. Sementara itu, sebanyak 61 paket beras lainnya terjual di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.
Secara keseluruhan, program tersebut berhasil menghimpun 180 paket beras zakat yang akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

“InsyaAllah penyaluran akan terus kami lakukan. Harapan kami, kegiatan ini bisa menanamkan nilai kepedulian sosial dan kemandirian sejak dini kepada siswa,” tandasnya.
Bagi SDN Pakandangan Sangrah, momentum Ramadan bukan sekadar perayaan religius, melainkan juga ruang pendidikan karakter.
Melalui kegiatan yang memadukan nilai religius, kepedulian sosial, dan praktik nyata, sekolah ini berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya mencerdaskan secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.
Di tengah kesederhanaan kegiatan tersebut, pesan penting pun mengalir: bahwa pendidikan terbaik bukan hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berbagi yang nyata. (REDJAVA****)









