Jejak Ulama Tarbawi: Menjaga Warisan Al-Qur’an di Tanah Sumenep

- Redaksi

Minggu, 9 Maret 2025 - 21:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jejak Ulama Tarbawi: Menjaga Warisan Al-Qur’an di Tanah Sumenep

Jejak Ulama Tarbawi: Menjaga Warisan Al-Qur’an di Tanah Sumenep

JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di balik pesona sejarah dan kebudayaan Sumenep, tersimpan kisah para ulama tarbawi yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk melestarikan Al-Qur’an. Dari tangan mereka, mushaf-mushaf Al-Qur’an ditulis dengan penuh ketekunan, tafsir-tafsir disusun dengan kedalaman ilmu, dan lantunan ayat suci menggema di langit Bumi Sumekar.

Jejak ini kini terdokumentasi dalam sebuah buku karya Iwan Kuswandi, yang mengangkat kiprah ulama Al-Qur’an di Sumenep dalam empat kategori: penyalin mushaf, mufassir, kaligrafer, dan akademisi. Buku ini menjadi saksi bagaimana Al-Qur’an tidak hanya dihafal dan dibaca, tetapi juga dikaji, ditulis, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Sejarah mencatat, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (1762-1811), Raja Sumenep ke-32, pernah menyalin mushaf Al-Qur’an hanya dalam waktu sehari semalam. Sebuah pencapaian luar biasa yang mencerminkan kecintaan mendalam terhadap Al-Qur’an. Hingga kini, mushaf tersebut masih tersimpan di Museum Sumenep, menjadi bukti betapa eratnya hubungan kerajaan dengan syiar Islam.

Tak hanya Sultan Abdurrahman, ada nama-nama lain yang mengabadikan Al-Qur’an dalam bentuk tulisan tangan, seperti Kiai Nur Ali, Kiai Abdul Ghaffar, dan Kiai Samman. Mereka bukan sekadar penulis, melainkan penjaga cahaya Al-Qur’an yang memastikan generasi mendatang tetap mengenali jejak-jejak kebesaran kitab suci.

Dalam ranah tafsir, Sumenep memiliki sosok luar biasa seperti Kiai Thaifur Ali Wafa, yang menulis tafsir lengkap 30 juz berjudul Firdaus al-Na’im. Kitab tafsir ini menjadi pedoman bagi umat Islam, khususnya masyarakat Madura, yang ingin memahami Al-Qur’an lebih dalam. Setiap bulan, kitab ini dikaji di Kantor PCNU Sumenep, memperkaya wawasan keislaman masyarakat.

Selain Kiai Thaifur, masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk juga turut berkontribusi. KH Ahmad Basyir, KH Abdul Basith (penulis tafsir surat Yasin), KH Sa’di Amir, dan KH Muhsin Amir adalah beberapa nama yang mengukir keabadian Al-Qur’an melalui goresan pena mereka.

Baca Juga :  Polres Sumenep Kawal Aksi PMII Secara Humanis, Situasi Tetap Kondusif

Di bidang seni khat, nama Kiai Hatim Asham Tibyan dan Kiai Bastami Tibyan bersinar terang. Dua bersaudara ini mengajarkan kaligrafi di pesantren yang berbeda, memastikan seni menulis Al-Qur’an tetap hidup di Sumenep.

Sementara itu, dalam dunia akademik, KH Moh Tidjani Djauhari dan KH Ghazi Mubarak mengukir prestasi dengan menempuh pendidikan hingga ke jenjang doktoral di bidang tafsir Al-Qur’an. Tak ketinggalan, KH A Busyro Karim dan KH Jamaluddin Kafie turut memberikan sumbangsih lewat penerjemahan dan kajian ilmiah mereka.

Di ranah tahfidh, nama-nama seperti Kiai Abdullah A Zaini dan para ustadz penghafal Al-Qur’an terus melahirkan generasi pecinta Al-Qur’an. Mereka mendirikan pesantren tahfidh, membina santri, hingga menjadi juri di berbagai kompetisi tahfidh nasional dan internasional.

Sumenep juga dikenal dengan qari’-qari’ unggulannya. Nama-nama seperti Kiai Zarkasyi Rahiem, Ustadz Dasuki Yahya, Ustadz Abdul Jalil, hingga Ustadzah Sunniyah telah membawa lantunan ayat suci ke panggung nasional dan internasional. Suara mereka tak hanya indah, tetapi juga mampu menggugah hati siapa pun yang mendengarnya.

Baca Juga :  Program Pemberdayaan UMKM Sumenep Bangkitkan Kembali Gairah Pelaku Usaha Batik Beddei

Keberadaan ulama-ulama ini menjadi bukti bahwa Sumenep adalah tanah yang diberkahi. Al-Qur’an tidak sekadar dibaca, tetapi juga dikaji, ditulis, dilantunkan, dan diajarkan dengan penuh cinta. Buku yang mengabadikan perjalanan mereka bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

Di tengah arus modernisasi, Sumenep tetap menjaga tradisi keislaman yang kuat. Para ulama, akademisi, dan santri terus merawat cahaya Al-Qur’an, memastikan bahwa setiap hurufnya tetap hidup dalam hati umat Islam. Karena bagi mereka, melestarikan Al-Qur’an bukan sekadar tugas, tetapi juga kehormatan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (REDJAVA****)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Ritme Laga Sengit Warnai Mini Soccer HUT RI, Forkopimda Sumenep Menang Dramatis 3-2
Sabu 0,12 Gram Terbongkar, Dua Pemuda Diamankan Satresnarkoba Polresta Sumenep
Perpusling Sumenep Bikin Suasana Sekolah Berubah, Buku dan Olahraga Jadi Magnet Siswa SDN Kebunan 1
DPMPTSP Sumenep Gelar SALEHA, Dorong Pelaku Usaha Sadar Legalitas dan Naik Kelas
Laga Mini Soccer Forkopimda vs BMPD di Sumenep Jadi Ajang Perkuat Silaturahmi
Camat Guluk-Guluk Dorong Anak Berani Berkreasi di Hari Kemerdekaan Lewat Lomba Mewarnai
Dispusip Sumenep Bangun Generasi Literat, Pembekalan Lomba Bertutur Jadi Jalan Menumbuhkan Keberanian Sejak Dini
Dandim Sumenep Tinjau Lima Sumur Bor di Raas, Ikhtiar TNI Hadirkan Air Bersih untuk Warga Kepulauan

BERITA TERKAIT

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:12 WIB

Ritme Laga Sengit Warnai Mini Soccer HUT RI, Forkopimda Sumenep Menang Dramatis 3-2

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:15 WIB

Sabu 0,12 Gram Terbongkar, Dua Pemuda Diamankan Satresnarkoba Polresta Sumenep

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:05 WIB

Perpusling Sumenep Bikin Suasana Sekolah Berubah, Buku dan Olahraga Jadi Magnet Siswa SDN Kebunan 1

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:23 WIB

DPMPTSP Sumenep Gelar SALEHA, Dorong Pelaku Usaha Sadar Legalitas dan Naik Kelas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:27 WIB

Laga Mini Soccer Forkopimda vs BMPD di Sumenep Jadi Ajang Perkuat Silaturahmi

BERITA TERBARU