JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Di sebuah sudut negeri yang dikecup ombak Laut Jawa dan dihangatkan mentari Nusantara, tanah-tanah petani di Desa Duko, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Sumenep, kembali bernyawa.
Bukan oleh mesin berat, bukan oleh proyek besar berbiaya triliunan. Tapi oleh cangkul, semangat gotong royong, dan sepatu lars yang rela berlumpur demi satu cita bersama: kedaulatan pangan Indonesia.
Minggu pagi, 20 April 2025, menjadi catatan tersendiri di lembar sejarah Kecamatan Arjasa. Di lahan pecaton seluas dua hektar milik desa, program Luas Tambah Tanam (LTT) Swasembada Padi tak hanya dimulai, tapi digelorakan oleh sosok pemimpin lapangan yang tak segan basah dan lelah Kapten Czi Acep Kusnadi, Danramil 0827/18 Kangean.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini bukan sekadar kegiatan tanam. Ini adalah bagian dari perjuangan. Tanah ini bukan cuma tanah pertanian, tapi tanah tempat berdirinya bangsa. Maka siapa yang menanam di atasnya dengan niat tulus, ia sedang membangun negeri,” kata Kapten Acep kepada media ini.
Ia datang bersama dua anggotanya Serda Langgeng dan Praka Sambo dan tidak hanya memberikan instruksi. Ia membaur bersama 20 petani, Kepala Desa Duko Bapak Liatnan, serta para penyuluh pertanian seperti Pak Mifta dan Pak Yani. Langkah-langkah mereka berpadu di ladang, dan cangkul mereka menyatu dengan harapan.
Menurut Kapten Acep, kehadiran TNI di tengah petani bukanlah pencitraan, melainkan perwujudan dari jati diri tentara rakyat.

“TNI lahir dari rahim rakyat, tumbuh bersama rakyat, dan akan selalu berjuang untuk rakyat. Kami hadir di sini bukan hanya untuk pengamanan wilayah, tapi juga memastikan rakyat bisa makan dari hasil keringat sendiri. Swasembada pangan adalah pondasi pertahanan negara yang tak kalah penting dari senjata,” tegasnya.
Bagi Kapten Acep, pangan bukan sekadar komoditas, tapi simbol kedaulatan. Ia menilai, di tengah tantangan global, krisis iklim, dan ancaman ketergantungan impor, maka langkah-langkah kecil seperti yang dilakukan di Desa Duko memiliki makna besar.
“Ketika kami menanam, kami tidak hanya menumbuhkan padi. Kami menumbuhkan semangat berdikari. Dan dari Arjasa, kami ingin sampaikan pesan ke seluruh Indonesia: jangan pernah remehkan kekuatan desa. Di sinilah, swasembada itu dimulai,” ungkapnya.
Program LTT ini dirancang untuk mendorong percepatan tanam, efisiensi lahan, dan peningkatan produksi pangan. Di Arjasa sendiri, meskipun berada di wilayah kepulauan yang secara geografis menantang, sinergi antara TNI, aparat desa, penyuluh, dan petani mampu menjawab tantangan itu.
Kegiatan berlangsung dalam suasana aman dan penuh antusiasme. Keringat yang menetes bukan sekadar upaya fisik, tetapi menjadi bukti bahwa di tengah keterbatasan, masih ada anak bangsa yang memilih bekerja dalam diam demi masa depan Indonesia yang kuat.
Danramil Acep pun menutup dengan pesan mendalam:
“Selama masih ada petani yang mau menanam, dan tentara yang siap menjaga, Indonesia tak akan pernah kekurangan harapan.” tandasnya (REDJAVA****)










