JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan Festival Ojhung tahun ini. Untuk pertama kalinya, tradisi sakral masyarakat Batu Putih itu digelar di Pantai Galung, Desa Juruan Daya, Minggu (12/04), menandai babak baru pengembangan wisata budaya di Kabupaten Sumenep.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya festival ini dipusatkan di Pantai Badur, maka pemindahan lokasi ke Pantai Galung bukan tanpa alasan. Pemerintah daerah ingin menghadirkan suasana baru sekaligus memperluas titik pertumbuhan wisata berbasis budaya di wilayah pesisir.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Sumenep, Faruk Hanafi, S.Sos, M.S.I, melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Mohammad Zaini, S.Sos.,M.S.I., menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi penguatan destinasi.
“Tahun ini menjadi momentum penting, karena untuk pertama kalinya Festival Ojhung kami gelar di Pantai Galung. Sebelumnya selalu di Pantai Badur. Ini bagian dari upaya kami memperluas sebaran destinasi wisata budaya,” kata Mohammad Zaini ini, Sabtu (11/04).
Menurutnya, pemilihan Pantai Galung juga didasarkan pada potensi lanskap pesisir yang dinilai mampu memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
“Kami ingin menghadirkan nuansa baru. Pantai Galung memiliki karakter yang kuat, sehingga ketika dipadukan dengan tradisi Ojhung, akan menciptakan daya tarik yang lebih besar,” jelasnya.
Lebih dari sekadar perpindahan lokasi, festival ini menjadi simbol transformasi pengelolaan budaya yang lebih progresif dan adaptif terhadap kebutuhan pariwisata modern.
“Ini bukan hanya soal tempat, tetapi bagaimana kami mengemas tradisi agar lebih menarik tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Ojhung tetap autentik, tetapi tampil lebih atraktif,” tegas Zaini sapaannya.
Lebih lanjut, Mohammad Zaini ini juga menekankan bahwa dampak ekonomi menjadi salah satu target utama dari penyelenggaraan festival ini.
“Dengan lokasi baru dan konsep yang lebih terbuka, kami berharap kunjungan wisatawan meningkat signifikan dan berdampak langsung pada ekonomi masyarakat sekitar,” pungkasnya.
Sebagai tradisi warisan leluhur, Ojhung dikenal sebagai pertarungan menggunakan rotan yang dilakukan dua orang dengan perlengkapan sederhana seperti pelindung kepala dari anyaman dan sarung tebal sebagai perisai.
Di masa lalu, ritual ini dipercaya sebagai bentuk ikhtiar memanggil hujan saat kemarau panjang. Namun kini, Ojhung telah bertransformasi menjadi ikon budaya Sumenep yang tidak hanya sarat nilai historis, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.
Perpindahan dari Pantai Badur ke Pantai Galung menjadi penanda bahwa Sumenep tidak berhenti pada pelestarian, tetapi terus berinovasi menjadikan budaya sebagai kekuatan utama dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. (REDJAVA****)












