JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Ramadan di Sumenep kembali diwarnai dengan dentingan kentongan dan alunan seruling bambu.
Tradisi musik patrol yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kini bangkit lebih semarak, bukan sekadar membangunkan sahur, tetapi juga sebagai ajang pelestarian budaya dan kreativitas generasi muda.
Sejak malam kedua Ramadan, jalanan di berbagai sudut kota dipenuhi oleh grup-grup musik patrol yang memainkan irama khasnya. Suara tabuhan yang menggema di langit dini hari membawa suasana hangat dan penuh semangat.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini musik patrol tidak hanya hadir sebagai tradisi, tetapi juga menjadi ajang kompetisi dengan hadiah jutaan rupiah yang semakin membakar antusiasme para peserta.
Bukan sekadar ritual membangunkan warga untuk sahur, musik patrol kini berkembang menjadi bentuk ekspresi seni yang semakin kaya.
Banyak kelompok peserta yang menghadirkan inovasi baru dengan mengombinasikan alat musik tradisional dan modern, menciptakan harmoni unik yang menggugah semangat Ramadan.
“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga warisan yang harus terus dijaga. Musik patrol menjadi bagian dari identitas kami di Sumenep,” ujar Syamsul, salah satu peserta asal Kecamatan Kalianget.
Kompetisi yang digelar tahun ini semakin meningkatkan daya saing dan kreativitas para peserta.
Mereka berlomba-lomba menciptakan aransemen terbaik dengan memanfaatkan alat-alat sederhana seperti ember, galon, hingga potongan bambu.
Kemeriahan musik patrol mendapat sambutan hangat dari masyarakat, baik yang terlibat langsung maupun yang menikmati sebagai penonton.
Banyak warga yang rela begadang untuk menyaksikan parade patrol yang melintasi jalan-jalan utama kota.
“Setiap Ramadan, saya selalu menunggu momen ini. Musik patrol membawa nuansa khas yang menghidupkan suasana sahur. Rasanya Ramadan di Sumenep kurang lengkap tanpa dentingan kentongan ini,” kata Kholifah, seorang warga di Kecamatan Kota, Minggu (02/03/2025).
Pemerintah daerah dan berbagai komunitas turut memberikan dukungan penuh agar tradisi ini terus lestari.
Mereka berharap, musik patrol tidak hanya menjadi hiburan tahunan, tetapi juga berkembang sebagai ikon budaya yang bisa menarik wisatawan dan menjadi kebanggaan masyarakat Sumenep.
Dengan semangat yang terus berkobar, musik patrol bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga simbol kebersamaan dan warisan budaya yang terus bersinar.
Ramadan di Sumenep kini bukan hanya soal ibadah dan sahur, tetapi juga tentang melestarikan kearifan lokal yang tak ternilai harganya. (REDJAVA****)












