JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Denting gamelan menggema di dalam megahnya Pendopo Agung Keraton Sumenep, menghadirkan suasana haru dan bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Bukan dari para seniman profesional, melainkan dari para siswa kelas 4 dan 5 SDN Bluto 1, yang dengan penuh percaya diri tampil membawakan seni tradisional kenèngan, salah satu warisan budaya khas Madura.
Penampilan istimewa ini menjadi bagian dari acara High Level Meeting Tim Percepatan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang diselenggarakan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sumenep, bekerja sama dengan Bank Indonesia dan Bank Jatim Cabang Sumenep.
Di tengah suasana formal yang dihadiri para pejabat dan pemangku kebijakan daerah, suara gamelan dari tangan-tangan kecil para siswa justru menjadi pusat perhatian, membawa nuansa tradisi yang menyentuh hati.
Dengan mengenakan busana adat dan wajah polos penuh semangat, para siswa SDN Bluto 1 tampil tidak hanya untuk memeriahkan acara, tetapi juga membawa pesan moral: bahwa anak-anak generasi digital pun mampu merawat dan melestarikan budaya lokal dengan bangga.
Suara gong, kenong, dan saron berpadu apik membentuk harmoni yang membuat suasana pendopo terasa hidup dan penuh makna.
Nunung Fitriana, S.Pd., guru SDN Bluto 1 sekaligus Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPI) Daerah Sumenep, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas penampilan anak-anak didiknya.
“Kami sangat bangga. Anak-anak tampil luar biasa. Ini adalah hasil dari latihan yang konsisten dan kecintaan mereka terhadap budaya daerah. Kami ingin membuktikan bahwa teknologi dan tradisi bukan untuk dipertentangkan, tetapi bisa berjalan beriringan,” ujarnya kepada media, Kamis (19/06/2025).
Sebagai Ketua KPI Daerah, Nunung juga menegaskan bahwa kegiatan seni seperti ini merupakan bagian penting dari pemenuhan hak anak.
“Anak-anak berhak untuk tumbuh dengan jati diri budayanya sendiri. Dan melalui gamelan, mereka belajar tentang kerjasama, kedisiplinan, ketekunan, dan tentu saja, cinta tanah air. Ini bukan sekadar ekstrakurikuler. Ini adalah pendidikan karakter yang hidup,” jelasnya.
Acara TP2DD yang biasanya dipenuhi diskusi serius tentang digitalisasi dan sistem keuangan daerah, hari itu terasa lebih hangat dan manusiawi berkat penampilan para siswa.
Beberapa tamu bahkan tampak menahan haru dan memberikan tepuk tangan panjang sebagai bentuk apresiasi.
Penampilan tersebut bukan hanya membuktikan bahwa seni budaya masih hidup, tetapi juga menegaskan bahwa sekolah dasar negeri pun mampu menjadi benteng pelestarian warisan leluhur.
“Di balik denting gamelan itu, tersimpan semangat, harapan, dan cita-cita anak-anak bangsa yang tidak ingin tercerabut dari akar budayanya,” pungkasnya.(REDJAVA****)












