JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – “Jika jiwa akan berjalan menuju cahaya, dalam pandangan dunia hal itu berarti penderitaan. Di dalam dahaga yang tak tertuntaskan, terdapat kegembiraan yang abadi.”
Nyai Dewi Hasanah binti KH Usymuni telah pergi. Ia pergi bersama ilmunya. Dan perginya seorang berilmu adalah sebuah musibah retakan ummat.
Tak ada yang abadi dari permainan dunia, sebagaimana hidup ini juga tidak abadi. Banyak sudah manusia yang mati dan kita hanya menunggu kematian dipergilirkan.
Jika ada kepedihan di dunia ini, maka pembatasnya adalah kematian. Pengetahuan tentang agama ini memang perlu kita cari agar mengilmui dengan benar. Kita perlu berupaya menajamkan hati kita agar lebih mudah tergerakkan oleh agama dan menjadi tempat bersemayamnya hidayah.
Perjalanan hidup ini terus melaju ke masa depan. Maka pilihan kita hanyalah menyiapkan diri pulang ke kampung akhirat.
Jika amal shaleh kita tak dapat diharap samasekali, semoga tangisan kita yang menghiba ampunan-Nya, dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah berupa surga-Nya. Maka kepada Allah Ta’ala kita meminta perbaikan urusan akhirat kita.
Dan penutup atas segala perkara di dunia ini adalah kematian. Ini dapat menjadi pembebas dari segala kesulitan untuk menuju nikmat kubur dan nikmat akhirat.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.”
Sesungguhnya, ketenangan itu muncul sebagai akibat dari kokohnya keyakinan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
SELAMAT JALAN
Nyai Hj Dewi Hasanah
Salam Ta’ziyah
JO PANAONGAN












