JAVANETWORK.CO.ID.NGANJUK –Musibah bisa datang kapan saja, namun semangat pengabdian tak boleh runtuh.
Itulah prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Dr. Moh. Zeinudin, S.H., S.H.I., M.Hum., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sumenep, sekaligus Kaprodi Magister Hukum Direktorat Pascasarjana Universitas Wiraraja Madura, Jawa Timur.
Dalam perjalanan menuju Gedung Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk menjadi narasumber dalam Seminar Nasional dan Diseminasi Hasil Penelitian PSPBN UIN, Dr. Zein mengalami kecelakaan tunggal yang nyaris merenggut nyawanya.

Peristiwa itu terjadi pada Jum’at dini hari, 08 Juli 2025, sekitar pukul 00.00 WIB di ruas Tol Nganjuk Jawa Timur.
Di tengah derasnya hujan, mobil yang ditumpanginya bersama dua asisten tergelincir, lalu terbalik berkali-kali. Kendaraan rusak berat dengan kerusakan fisik mencapai 75 persen.
Dalam kondisi genting itu, ketiganya selamat. Dr. Zein mengalami luka robek di lengan kiri, sementara kedua asistennya tidak mengalami cedera serius.

“Ini bukan hanya soal selamat atau tidak, tapi tentang makna hidup dan tanggung jawab ilmu. Saya bersyukur Allah masih memberi kesempatan untuk melanjutkan hidup dan tetap hadir di tengah forum ilmu pengetahuan,” ujar Dr. Zein kepada media ini, Jum’at (25/07/2025)
Alih-alih beristirahat, Dr. Zein justru memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, demi menepati undangan Pusat Studi Pancasila dan Bela Negara (PSPBN) UIN Sunan Kalijaga, yang telah mempercayakan dirinya sebagai pembicara utama dalam forum nasional tersebut.
Acara yang digelar pada 8-9 Juli 2025 itu bertajuk “Keluarga Pancasila: Potret Keberagama(a)n Masyarakat Indonesia”.

Dalam sesi Seminar Nasional, Dr. Zein membawakan materi “Legalitas Perkawinan Beda Agama: Konsep dan Regulasi di Indonesia.”
Ia tampil bersama dua narasumber lainnya, yakni Dr. Abd. Waid, M.H.I. (IAINU Kebumen) dan Rizal Al Hamid, M.S.I. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), dengan moderator Proborini, M.Hum.
Dr. Zein memang dikenal sebagai sosok yang konsisten membahas isu-isu hukum keluarga yang kompleks dan sensitif, terutama mengenai perkawinan lintas agama.

Ia telah menerbitkan berbagai artikel ilmiah, buku, serta aktif menjadi narasumber dalam forum akademik nasional.
Fokusnya pada keadilan konstitusional dalam konteks pluralisme menjadikannya rujukan penting di tengah perdebatan publik tentang reformasi hukum keluarga.
“Bagi saya, kehadiran di forum seperti ini bukan soal formalitas, tapi bagian dari jihad intelektual. Saya percaya, hukum harus hadir tidak hanya untuk menata, tapi juga untuk memahami. Perkawinan beda agama bukan hanya soal regulasi, tapi tentang ruang hidup warga negara yang harus dilindungi,” terangnya.
Sebagai Ketua PDM Muhammadiyah Sumenep, Dr. Zein juga membawa semangat dakwah yang berpijak pada ilmu, bukan sekadar retorika.
Komitmennya untuk tetap hadir di mimbar akademik meski dalam keadaan terluka, menjadi teladan tentang bagaimana seorang cendekiawan menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh.
“Seminar ini bukan hanya soal berbicara di panggung. Ini tentang konsistensi, keberanian, dan kesetiaan pada nilai-nilai ilmu, meski jalan yang harus dilalui penuh luka dan risiko. Karena ilmu tidak mengenal jeda, dan pengabdian tidak mengenal mundur. Selama akal masih berpikir dan hati masih berpihak pada kebenaran, maka tugas keilmuan harus terus dijalankan. Meski tubuh luka, pikiran dan keberanian tidak boleh istirahat,” pungkasnya. (REDJAVA****)













