JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Siang itu, langit Manding tampak biasa saja. Tak ada tanda-tanda akan terjadi sesuatu. Di atas sepeda motornya, Ach. Zaini, Ketua LSM Super Sumenep, duduk di belakang Faisol, wartawan Kaperwil Madura media Temporarur.com. Keduanya baru saja meninggalkan Kecamatan Rubaru usai menjalankan tugas investigasi lapangan.
“Selama perjalanan kami santai saja di pinggir jalan, sambil ngobrol soal temuan dugaan Tipikor. Kami bahkan sempat berencana ke Batang-Batang setelah salat Zuhur,” tutur Ach. Zaini pelan saat ditemui di rumahnya, Desa Pamolokan, Sumenep.
Namun, percakapan itu tiba-tiba terhenti oleh suara benturan keras.
“Saya merasakan motor tersenggol dari belakang, lalu tubuh saya terpelanting ke tengah jalan. Untung saat itu jalan sepi. Saya lihat Mas Faisol sudah tak berdaya. Kepala saya pusing, napas sesak, dan badan rasanya remuk. Semua terjadi begitu cepat,” ujarnya mengingat kembali detik-detik kejadian yang membuatnya terpukul.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Peristiwa nahas itu terjadi di tikungan Manding, Kabupaten Sumenep, pada Senin (27/10/2025) sekitar pukul 11.30 WIB. Dari arah selatan, sebuah mobil pribadi melaju kencang, sementara mobil boks dari arah berlawanan juga berkecepatan tinggi. Kedua kendaraan kehilangan kendali di tikungan sempit dan menyerempet motor yang dikendarai Faisol dan Zaini.
Warga sekitar yang mendengar suara keras segera menolong. Pengemudi mobil boks, seorang salesman asal Pamekasan, langsung menghampiri korban dan menyatakan tanggung jawab. Kasus tersebut pun diselesaikan secara kekeluargaan di tempat kejadian.
Setelah sempat pingsan, Faisol akhirnya sadar dan dibawa pulang ke rumahnya di Desa Rombiya Barat, Kecamatan Ganding, untuk mendapat perawatan medis. Luka memar di beberapa bagian tubuh membuatnya sulit beraktivitas.
“Saya masih sering merasa nyeri, terutama di bahu dan punggung. Tapi alhamdulillah sudah mulai membaik. Hanya butuh waktu istirahat lebih lama,” ujar Faisol dengan nada tenang melalui sambungan telepon, Senin (03/11/2025).
Sementara itu, sang istri, Fitri, menuturkan bahwa Faisol kini hanya melakukan aktivitas ringan di rumah.
“Dokter menyarankan suami saya istirahat total dulu. Biar benar-benar pulih sebelum kembali bekerja. Yang penting sekarang fokus pemulihan dulu,” katanya.
Meski tubuh belum pulih sempurna, semangat keduanya untuk terus menjalankan tugas sosial dan jurnalistik tak pernah surut. Zaini bahkan menyebut peristiwa itu sebagai peringatan halus dari Tuhan agar lebih berhati-hati di jalan, tanpa kehilangan semangat perjuangan.
“Ini ujian bagi kami. Mungkin Allah ingin kami berhenti sejenak, bukan menyerah,” ucapnya lirih.
Kini, keduanya masih menjalani masa pemulihan di tempat terpisah. Namun, cerita di Tikungan Manding itu meninggalkan pelajaran berharga tentang betapa tipisnya jarak antara tugas dan takdir. Jalan yang mereka lalui untuk mengabdi justru menjadi saksi bahwa pengabdian sejati sering kali diiringi ujian dan dari luka itulah keteguhan hati diuji. (REDJAVA****)








