JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Tradisi kebanggaan masyarakat Madura kembali menggelegar di Stadion Giling, Kecamatan Kota Sumenep, Sabtu (21/6/2025). Sebanyak 64 pasang sapi kerap dari berbagai penjuru Pulau Madura, serta dua kabupaten luar Madura, Lumajang dan Probolinggo, turut berlaga dalam Lomba Kerapan Sapi memperebutkan Piala Bupati Sumenep 2025.
Ajang ini dibuka langsung oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, yang hadir di tengah ribuan penonton dari berbagai daerah. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kerapan sapi bukan sekadar perlombaan, melainkan warisan budaya luhur yang harus dijaga bersama.
“Karapan sapi bukan hanya perlombaan, tapi warisan budaya leluhur yang tidak ternilai. Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama, terutama generasi muda, untuk terus melestarikan dan mengembangkannya,” kata Bupati Fauzi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menekankan bahwa karapan sapi memiliki makna strategis, tidak hanya dalam pelestarian budaya lokal, tetapi juga sebagai kekuatan pariwisata daerah. Menurutnya, dengan pengemasan yang modern dan promosi digital yang maksimal, tradisi ini bisa menjadi ikon wisata budaya berkelas nasional bahkan internasional.

“Masyarakat harus menjaga warisan leluhur Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep. Karapan sapi bukan hanya hiburan rakyat, tapi kekayaan budaya yang bisa dikenalkan ke dunia,” sambungnya.
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Sumenep berkomitmen menjadikan lomba kerapan sapi sebagai agenda tahunan resmi, dengan penyelenggaraan yang profesional, kreatif, dan terus berinovasi.
“Lomba budaya seperti ini harus dikemas menarik, bahkan memanfaatkan teknologi untuk promosi agar bisa menjadi daya tarik wisata budaya skala nasional maupun internasional,” imbuhnya.
Tak lupa, Bupati juga menyampaikan apresiasi atas semangat masyarakat yang tetap setia menjaga tradisi karapan sapi selama ratusan tahun. Ia berharap nilai-nilai lokal tersebut bisa terus diwariskan di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
“Karapan sapi bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga bentuk kecintaan kita terhadap budaya lokal. Ini harus terus kita jaga agar tetap hidup di tengah arus modernisasi,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Bupati mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dan keamanan selama lomba berlangsung.
“Menang kalah itu biasa dalam sebuah perlombaan, tapi sportivitas dan solidaritas antarpeserta harus jadi nilai utama dalam setiap kerapan,” pungkasnya.
Ketua Panitia Lomba, Miskun Legiyono, mengungkapkan bahwa tahun ini lomba kerapan sapi digelar lebih meriah dan kompetitif, dengan hadiah utama berupa tiga unit mobil dan enam unit sepeda motor. Perbaikan sarana dan prasarana, terutama di lintasan pacu Stadion Giling, juga telah dilakukan guna mendukung kelancaran lomba.

“Sebanyak 64 pasang sapi kerap ikut serta dalam lomba tahun ini. Peserta tidak hanya dari empat kabupaten di Madura, tapi juga dari luar seperti Lumajang dan Probolinggo. Ini menunjukkan bahwa tradisi ini makin dikenal luas dan diminati,” jelas Miskun.
Ia menambahkan, lomba kerapan sapi bukan hanya ajang adu cepat antar sapi dan keahlian joki, tapi juga momentum mempererat kebersamaan dan menjaga jati diri budaya Madura di tengah perubahan zaman.
Hingga berita ini diturunkan, pertandingan berlangsung seru. Sorak-sorai penonton menggema mengiringi derap kaki sapi di lintasan pacu. Atmosfer penuh semangat dan kebanggaan terpancar dari para pendukung, joki, hingga pemilik sapi.
Ajang ini menjadi bukti bahwa kerapan sapi tetap menjadi magnet budaya yang tak lekang oleh zaman, sekaligus ikon kearifan lokal yang terus hidup di tengah dinamika masyarakat modern.(REDJAVA****)











