JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Sudah sepantasnya kita bangga akan warisan budaya yang kita miliki. Rasa kecintaan tersebut tentu perlu ditularkan dan dipupuk pada generasi penerus agar mereka mengenal dan menjaga salah satu warisan budaya bangsa di bidang Membatik.
Salah satunya, melalui Workshop Membatik dan Festival Karya dengan tema “Inspirasi Daerahku” yang digelar Oleh Kampus STKIP PGRI Sumenep Prodi PGSD dengan menggandeng Rumah Produksi Batik Tulis Canteng Koneng yang memanfaatkan kain perca batik yang berlangsung di Rumah Produksi Batik Canteng Koneng III Desa Pakondang, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Sabtu (10/12/2022).
Hadir pada kegiatan tersebut, Imam Kachonk Selaku Pemateri sekaligus pengelola Rumah Produksi Batik Tulis Canteng Koneng, Ibnu Hajar Konsultan Budaya Canteng Koneng, serta Dosen Pengampuh mata Kuliyah Prakarya Prodi PGSD STKIP PGRI Sumenep, Dr. Ahmad Shiddiq, M.Pd.I.
Kegiatan ini berlangsung Selama 30 Hari kedepan, dengan diikuti 140 Mahasiswa dari Prodi PGSD STKIP PGRI Sumenep
Dihadapan mahasiswa, Imam menyampaikan, Secara garis besar, workshop ini digelar dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran kepada para masyarakat khususnya kaum Mullineal, agar lebih membudayakan dan menjaga kelestarian warisan budaya kita yaitu batik.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa batik adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia yang harus dilestarikan, tidak hanya pemerintah saja yang berperan dalam melestarikan batik, namun masyarakat khususnya para kaula Muda juga mempunyai peranan penting dalam hal ini.” Ucapnya.
Imam menegaskan, Salah satu budaya yang paling mencerminkan Indonesia adalah Budaya batik. Dimana setiap daerah memiliki corak dan motif batik yang beragam. Anak muda sebagai generasi penerus warisan leluhur ini seharusnya perlu mengenal budayanya sendiri. Hal ini pula yang melatarbelakangi adanya pelatihan untuk kalangan para Mahasiswa.
“Pada kesempatan kali ini, kami ingin menciptakan kembali kesadaran generasi muda terhadap budaya kita sendiri, dengan melalui workshop membatik ini setidaknya dapat membantu generasi muda untuk mengetahui pengetahuan mengenai batik dan cara cara membuat batik,” terangnya.
Sehingga kata imam, diharapkan kedepannya akan ada banyak anak muda yang ikut serta dalam berperan membuat batik agar budaya Indonesia dapat selalu dilihat dari semua kalangan dan menyebar luas baik secara nasional maupun internasional.
Diakuinya, pondasi budaya perlu ditanamkan pada bibit-bibit generasi, terutama anak muda yang memegang peranan penting menuju perubahan.
“Output yang kami harapkan nantinya pasca Kegiatan Workshop Membatik ini dapat membentuk komunitas atau Organisasi yang ada di Internal Kampus untuk bisa memproduksi batik sendiri,” Harapnya.
Pada kesempatan itu juga, Konsultan Budaya Padepokan Canteng Koneng, Ibnu Hajar M.Pd menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebab, hal ini akan menumbuhkan rasa kecintaan generasi muda terhadap warisan leluhur.
“Saya berharap kepada generasi muda atau mahasiswa khususnya bagaimana mencintai batik, karena batik merupakan warisan para leluhur kami,” kata Ibnu Hajar saat ditemui media ini Di sela-sela kegiatan.
Budayawan Nasional ini menjelaskan bahwa budaya membatik sudah dilakoninya sejak zaman Belanda dan diwariskan secara turun temurun.
“Dengan mengajarkan kecintaan budaya membatik pada Pemuda harapannya supaya batik ini tetap dilestarikan. Sehingga tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” ucapnya.
Lebih jauh, Ibnu mengungkapkan, dalam kegiatan ini Batik Canteng Koneng berupaya memberikan nuansa yang berbeda dengan batik-batik yang telah ada, artinya Canteng Koneng menyuguhkan nuansa batik kontemporer.
“Meskipun tidak harus menghilangkan brand-brand lokal seperti guratan-guratan garis batik Canteng Koneng yang selama ini telah populer secara nasional bahkan ke beberapa Negara tetangga,” kata dia menerangkan.
Menurutnya, meskipun dengan corak warna kontemporer tetapi pihaknya tetap mempertahankan nilai filosofi seperti nilai-nilai kearifan lokal dan nilai kultural masyarakat Madura.
“kita tetap eksis memberikan pencerahan kepada generasi muda yang hadir dalam kegiatan ini, agar tidak hanya bisa membatik tetapi dibalik batik ada pesan yang tersirat yang mengandung pesan moral, kemanusiaan serta kearifan lokal,” jelasnya.
Sementara Owner Batik Canteng Koneng Didik Haryanto mengapresiasi atas kegiatan ini, sehingga pihaknya berharap dapat terus berkesinambungan meskipun tanpa adanya dukungan misalnya dari siapapun.
“Kami sangat mengapresiasi atas kegiatan workshop membatik ini, dengan adanya pelatihan ini para mahasiswa jadi mempunyai kesempatan untuk berkreasi. Juga sekaligus membangun kecintaan para kaum millineal terhadap budayanya,” kata Didik pada Media Javanetwork.co.id. lewat pesan WhatsAppnya, Minggu (11/12/2022).
“Kita tetap memiliki komitmen untuk berbagi ilmu kepada generasi muda agar mampu menjadi generasi mandiri paling tidak dibidang membatik,” imbuhnya.
Kedepannya, lanjut Didik, akan selalu bersinergi dengan siapapun, akan welcome yang ingin bekerja sama dalam arti, memberikan pencerahan dalam membatik.
“Dengan siapapun kita siap bekerja sama,” ujar CEO Media Online Detikkota.com ini.
Kegiatan seperti ini juga dikatakan Didik Cako sapaan akrabnya, sebagai bagian dalam meningkatan ilmu melalui edukasi yang langsung diberikan oleh pengelola usaha batik, serta melatih diri bagaimana caranya untuk bisa berkarya di bidang seni membatik.
Wawasan dan pengalaman ini erat berkaitan dengan program pemberdayaan maupun usaha peningkatan dalam menciptakan ekonomi kreatif ditengah masyarakat.
“Tentu ini sangat positif, tentu kedepan para mahasiswa dan kaum milenial diharapkan semakin mencintai batik.” paparnya.
Apalagi di era globalisasi saat ini, budaya membatik tidak boleh luntur, namun harus tetap eksis terjaga dan juga dituntut bisa mengikuti zaman.
“Sehingga harus ada inovasi baru yang dapat mengelaborasi ragam batik di era digitalisasi,” ungkapnya.
Didik berharap, para peserta Workshop, setelah kegiatan ini agar terus berkarya dan berinovasi sehingga mampu membuat karya baru, hasil pengembangan dari karya sebelumnya, sehingga semakin banyak yang berminat dari produk baru yang dihasilkan.
“Kerja sama dengan lembaga pendidikan ini tidak semata-mata melestarikan budaya, akan tetapi membantu tumbuh kembangnya daya imajinasi dan kreasi di kalangan peserta didik,” tandasnya. (REDJAVA****)












