JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Perkembangan teknologi finansial atau financial technology (fintech) yang semakin pesat dinilai membuka peluang besar bagi generasi muda untuk membangun kemandirian ekonomi. Namun, kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital harus diimbangi dengan kemampuan literasi finansial yang kuat.
Pesan tersebut disampaikan Direktur Naghfir’s Institute, Dr. Naghfir, S.H.I., S.H., M.Kn., saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sekolah Kader KOPRI PC PMII Sumenep, Sabtu (08/08/2026).
Kegiatan yang diikuti para kader mahasiswa dari sejumlah kampus di Kabupaten Sumenep tersebut mengangkat tema “Strategi Kemandirian Finansial Pemuda dalam Konteks Fintech.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam forum tersebut, Dr. Naghfir menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan menjadi salah satu kebutuhan penting bagi pemuda di tengah perubahan ekosistem ekonomi yang semakin terdigitalisasi.
Menurutnya, generasi muda tidak boleh hanya memahami fintech sebatas alat untuk melakukan transaksi. Lebih dari itu, pemuda harus mampu membaca peluang, memahami risiko, serta memanfaatkan perkembangan teknologi finansial untuk membangun produktivitas dan kemandirian ekonomi.
“Sekolah Kader KOPRI ini menjadi ruang penting untuk memperkuat literasi keuangan pemuda. Generasi muda harus memahami bagaimana mengelola keuangan sekaligus mengambil keputusan finansial secara cerdas di tengah perkembangan teknologi,” kata Dr. Naghfir
Ia mengatakan, transformasi fintech telah menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Akses terhadap berbagai layanan keuangan kini semakin mudah dan cepat, sehingga pemuda memiliki kesempatan lebih luas untuk mengembangkan potensi ekonomi.
Namun, kemudahan tersebut juga harus disertai kesadaran dan pengetahuan yang memadai. Tanpa literasi finansial, kemajuan teknologi justru berpotensi membuat generasi muda mengambil keputusan keuangan tanpa pertimbangan yang matang.
“Fintech menghadirkan peluang yang sangat besar bagi pemuda. Tetapi jangan sampai anak-anak muda hanya menjadi pengguna. Mereka harus memahami peluang sekaligus risikonya, sehingga teknologi finansial benar-benar menjadi instrumen untuk membangun kemandirian,” tegasnya.
Dr. Naghfir juga menilai mahasiswa memiliki posisi strategis dalam mendorong perubahan ekonomi di tengah masyarakat. Lingkungan kampus dinilai dapat menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan gerakan yang mampu menjawab tantangan ekonomi digital.
Karena itu, kader KOPRI dan PMII didorong untuk meningkatkan kapasitas diri, tidak hanya dalam aspek organisasi dan kepemimpinan, tetapi juga dalam memahami perkembangan ekonomi serta teknologi finansial.
Menurutnya, pemuda harus mampu bergerak dari posisi sebagai konsumen menjadi pelaku yang menciptakan nilai ekonomi.
“Pemuda harus naik kelas. Jangan hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi harus mampu menjadi pelaku dan penggerak ekonomi digital. Dari kampus, kita bisa melahirkan gagasan dan inovasi yang kemudian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Naghfir.
Lebih jauh, ia mendorong para kader muda agar mengambil peran sebagai agen perubahan dalam membangun kesadaran finansial di lingkungan masing-masing.
Literasi finansial, kata dia, tidak sebatas kemampuan mencatat pemasukan dan pengeluaran. Literasi tersebut juga mencakup kemampuan membaca peluang ekonomi, memperhitungkan risiko, menentukan prioritas, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.
“Kader muda harus menjadi agen perubahan. Jangan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi harus mampu memanfaatkannya untuk menciptakan peluang ekonomi yang produktif, inovatif, dan berkelanjutan,” sambung dia.
Sekolah Kader KOPRI PC PMII Sumenep diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi digital.
Di tengah perkembangan fintech yang terus bergerak cepat, kemampuan memahami teknologi finansial dan mengelola keuangan secara bijak menjadi modal penting bagi pemuda.
“Dengan literasi finansial yang kuat, generasi muda tidak hanya diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan peluang dan mengambil peran sebagai penggerak ekonomi digital di masa depan,” pungkas Dr. Naghfir.









