JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di wilayah perairan Kabupaten Sumenep, Senin (4/5/2026). Meski telah memasuki musim kemarau, kondisi atmosfer justru menunjukkan dinamika yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran.
Kepala BMKG Stasiun Trunojoyo Sumenep, Ari Widjajanto, mengungkapkan bahwa langit di wilayah ujung timur Madura saat ini didominasi awan tebal dengan potensi hujan ringan yang tidak merata.
“Cuaca maritim saat ini cenderung labil. Awan tebal masih mendominasi dan berpotensi memicu hujan ringan disertai angin kencang sesaat,” kata Ari Widjajanto kepada media ini, Senin (04/05/2026)
Menurutnya, potensi paling berbahaya berasal dari pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang masih aktif muncul di fase awal musim kemarau. Awan ini dikenal sebagai pemicu utama angin kencang mendadak (gusty) yang sulit diprediksi.
“Potensi pertumbuhan awan Cb di fase awal kemarau ini masih cukup tinggi. Ini harus menjadi kewaspadaan kita bersama karena dapat memicu angin kencang secara tiba-tiba,” ujarnya.
Secara rinci, perairan utara dan selatan Sumenep diprakirakan mengalami angin dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan 9–15 knot. Namun dalam kondisi tertentu, angin dapat meningkat signifikan, terutama di wilayah perairan terbuka dan kepulauan.
“Kami mengingatkan, peningkatan angin dari awan Cb ini bisa datang tiba-tiba. Kondisi ini sangat berisiko terhadap pergerakan kapal, terlebih bagi perahu nelayan tradisional,” tegas Ari Widjajanto.
Di sekitar Pelabuhan Kalianget, cuaca terpantau berawan tebal dengan kecepatan angin relatif lebih rendah, berkisar 6–11 knot. BMKG juga mencatat adanya fenomena pasang surut dengan kondisi surut pada pagi hari mencapai -0,95 meter.
“Sementara itu, Untuk wilayah kepulauan seperti Kepulauan Sapudi diprediksi mengalami kondisi angin yang lebih dinamis. Kecepatan angin berkisar 9–13 knot dan berpotensi meningkat hingga 17 knot di beberapa titik,” jelasnya.
Tak hanya angin, BMKG juga mengingatkan adanya potensi peningkatan tinggi gelombang dalam beberapa hari ke depan di sejumlah perairan Jawa Timur, termasuk wilayah sekitar Madura.
“Dalam beberapa hari ke depan, kami memantau adanya peningkatan tinggi gelombang di sejumlah wilayah perairan Jawa Timur. Ini harus menjadi perhatian serius bagi pengguna jasa laut,” ungkap Ari.
Di sisi lain, kondisi kelembapan udara saat ini menunjukkan karakteristik musim kemarau, berada pada kisaran 63 hingga 85 persen. Udara yang cenderung lebih kering ini juga membawa dampak tersendiri bagi kesehatan masyarakat.
“Kelembapan udara sudah masuk kategori musim kemarau dan cenderung kering. Masyarakat harus menjaga kondisi tubuh agar tidak mengalami dehidrasi atau gangguan kesehatan lainnya,” imbuhnya.
BMKG menegaskan bahwa kombinasi antara angin kencang mendadak, pertumbuhan awan hujan, serta potensi gelombang tinggi menjadi faktor risiko yang tidak bisa dianggap sepele.
“Kami mengimbau nelayan, operator kapal, dan masyarakat pesisir untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca. Jangan abaikan peringatan dini, karena keselamatan adalah yang utama,” pungkas Ari.
Dengan kondisi cuaca yang fluktuatif di awal musim kemarau ini, kewaspadaan menjadi kunci utama agar aktivitas di laut tetap aman dan terkendali. (REDJAVA****)












