JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Gerakan Banteng Sakera Nahdliyin memulai langkahnya dengan cara yang sarat makna: ziarah kebangsaan. Bukan sekadar perjalanan spiritual, tetapi sebuah deklarasi nilai bahwa perjuangan harus berakar pada doa, adab, dan penghormatan terhadap para pendahulu bangsa.
Rangkaian ziarah itu menyasar dua titik penting dalam sejarah Indonesia. Pertama, makam Presiden pertama RI, Soekarno di Blitar. Kedua, kawasan makam salah satu waliyullah penyebar Islam di Nusantara, Sunan Ampel di Surabaya.
Puluhan pemuda dan anggota Banteng Sakera Nahdliyin mengikuti kegiatan ini dengan penuh khidmat. Di tengah lantunan doa dan tawasul, mereka tidak hanya berziarah, tetapi juga melakukan refleksi mendalam atas jejak perjuangan ulama dan para pendiri bangsa.

Koordinator Banteng Sakera Nahdliyin, Gus Huda, menegaskan bahwa sejarah Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran ulama, pesantren, serta para wali yang menyebarkan dakwah dengan pendekatan budaya dan kebangsaan.
“Ziarah ini menjadi pengingat kuat bahwa perjuangan Islam di Indonesia dibangun melalui dakwah yang santun, persatuan, dan akhlak. Para ulama serta waliyullah telah memberi teladan bagaimana menjaga agama sekaligus menjaga bangsa,” kata Gus Huda disela-sela kegiatan kepada media ini, Senin (04/05/2026).
Sementara itu, Ketua Banteng Sakera Nahdliyin, Maryono, menekankan pentingnya menanamkan kembali semangat nasionalisme kepada generasi muda.

Ia menyebut, perjuangan Soekarno dan para tokoh bangsa harus terus menjadi inspirasi dalam menjaga keutuhan Indonesia.
“Kami ingin gerakan ini lahir dari doa, adab, dan penghormatan kepada para pendahulu. Nasionalisme dan nilai keislaman tidak boleh dipisahkan keduanya harus berjalan seiring untuk membangun Indonesia yang kuat dan bermartabat,” tegasnya.
Lebih dari sekadar agenda seremonial, Maryono menyebut ziarah ini sebagai fondasi awal perjalanan gerakan.

“Ini bukan sekadar ziarah, tetapi ikhtiar membangun ruh perjuangan. Kami memulai langkah dengan doa, tawasul, dan penghormatan kepada ulama serta bapak bangsa,” tambah Maryono.
Diketahui, Banteng Sakera Nahdliyin merupakan wadah gerakan umat yang berkarakter pejuang berakar pada tradisi, berpihak kepada wong cilik, serta membawa semangat keberanian dalam bingkai nilai Islam Nusantara.
Melalui ziarah kebangsaan ini, Banteng Sakera Nahdliyin berharap mampu menanamkan nilai spiritualitas, persatuan, dan semangat kebangsaan kepada generasi muda, sekaligus meneguhkan bahwa perjuangan besar selalu dimulai dari ketulusan doa. (REDJAVA****)












