JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Riuh aktivitas Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) di kawasan Taman Bunga Sumenep, Minggu (3/5/2026) kemarin, tak hanya diwarnai olahraga dan rekreasi warga.
Di sudut lain, Komunitas Ngobar (Ngopi Bareng) Sumenep justru menghadirkan wajah berbeda: aksi sosial yang menyentuh lapisan masyarakat kecil.

Dengan langkah sederhana namun penuh makna, komunitas ini membagikan 120 nasi bungkus kepada para pekerja informal mulai dari abang becak, pedagang asongan, hingga petugas kebersihan yang tetap berjibaku di tengah keramaian.
Aksi berbagi itu menyisir sepanjang Jalan Diponegoro hingga kawasan Istana Roti Anita, menyatu dengan denyut kehidupan kota yang sedang menggeliat di akhir pekan.
Ketua Komunitas Ngobar Sumenep, Lita, mengatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk nyata komitmen sosial yang terus dijaga.

“Alhamdillah lemari kita Berbagi kepada sesama adalah cara kami menyalurkan rezeki sekaligus mempererat rasa persaudaraan. Kami ingin Ngobar hadir bukan hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat,” kata Lita, Senin (04/05/2026).
Ia menekankan, semangat kepedulian telah menjadi fondasi utama komunitas sejak awal berdiri. Berbagai program sosial pun terus digulirkan secara konsisten.
“Kami rutin mengadakan santunan anak yatim, Jumat Berkah, pembagian takjil saat Ramadan, hingga membantu anggota yang sedang sakit. Ini adalah bentuk kepedulian yang kami jaga bersama,” ujarnya.
Solidaritas menjadi kunci utama keberlangsungan gerakan ini. Dana kegiatan dihimpun dari iuran mingguan anggota yang relatif kecil, namun mampu menghadirkan dampak besar.
Sementara itu, Bendahara Komunitas Ngobar, Irma yang akrab disapa Mama Dewa mengungkapkan bahwa kekuatan komunitas terletak pada kebersamaan dan keikhlasan anggotanya.
“Iuran kami hanya Rp5.000 per minggu, tetapi karena dilakukan secara konsisten dan ditambah donasi sukarela, kegiatan sosial seperti ini bisa terus berjalan,” jelasnya.
Tak hanya bergerak di lingkup lokal, komunitas ini juga aktif membangun jejaring dengan berbagai komunitas lain di luar daerah.

“Kami juga sering bersilaturahmi dan melakukan studi banding ke komunitas lain, termasuk di luar Madura seperti Malang. Tujuannya untuk saling belajar dan memperluas dampak kebaikan,” imbuh Irma.
Aksi sosial tersebut berlangsung lancar, tertib, dan penuh kehangatan. Di tengah hiruk pikuk Car Free Day, kehadiran Komunitas Ngobar menjadi penegas bahwa kepedulian sosial dapat tumbuh dari ruang-ruang sederhana bahkan dari kebersamaan yang berawal dari secangkir kopi. (REDJAVA****)













