BBM Non-Subsidi Naik, Akademisi UTM Ingatkan Ancaman Inflasi hingga Stagflasi di Madura

- Redaksi

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akademisi UTM: Kenaikan BBM Non-Subsidi Bisa Tekan Daya Beli dan Picu Stagflasi di Madura

Akademisi UTM: Kenaikan BBM Non-Subsidi Bisa Tekan Daya Beli dan Picu Stagflasi di Madura

JAVANETWORK.CO.ID.BANGKALAN – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi diperkirakan tidak hanya membebani kelompok masyarakat pengguna langsung, tetapi juga berpotensi memicu efek berantai terhadap harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, hingga pertumbuhan ekonomi daerah.

Akademisi dari Universitas Trunojoyo Madura, Dr. Jakfar Sadik, SE., ME., menilai dampak kenaikan BBM non-subsidi akan merambat melalui sektor distribusi barang dan jasa yang menjadi tulang punggung pergerakan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, meskipun kebijakan tersebut secara langsung menyasar pengguna BBM non-subsidi yang umumnya berasal dari kalangan menengah ke atas, dampak akhirnya tetap dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Secara teori, kenaikan BBM non-subsidi memang lebih banyak menyasar kelompok menengah atas. Namun dalam praktiknya, biaya yang muncul akan diteruskan ke seluruh rantai distribusi sehingga masyarakat bawah tetap menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya,” kata Dr. Jakfar Sadik, Selasa (16/06/2026).

Ia menjelaskan, sebagian besar aktivitas distribusi barang antardaerah masih bergantung pada transportasi berbasis BBM non-subsidi. Ketika biaya operasional logistik meningkat, maka harga barang di tingkat konsumen hampir pasti ikut mengalami kenaikan.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi perhatian serius karena biaya distribusi masih menjadi salah satu komponen terbesar dalam pembentukan harga pangan nasional.

Baca Juga :  Peserta MHQ Tropi Bupati Sumenep Membludak, Total 453 Pendaftar

“Untuk komoditas seperti cabai, sayuran, telur, maupun daging ayam, biaya logistik sangat menentukan karena produk-produk tersebut membutuhkan distribusi cepat dan memiliki risiko kerusakan yang tinggi,” ujarnya.

Selain faktor biaya riil, Dr. Jakfar juga menyoroti adanya faktor psikologis pasar yang sering mempercepat kenaikan harga di lapangan.

Banyak pedagang dan pelaku usaha memilih menyesuaikan harga lebih awal sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan meningkatnya biaya produksi dan distribusi.

Menurut pria kelahiran Kabupaten Sumenep itu menyebut fenomena tersebut menyebabkan kenaikan harga pangan sering kali melampaui besaran kenaikan biaya transportasi yang sebenarnya terjadi.

“Pasar biasanya merespons bukan hanya berdasarkan biaya yang sudah terjadi, tetapi juga ekspektasi terhadap biaya yang mungkin muncul ke depan. Karena itu harga barang sering naik lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya transportasi itu sendiri,” jelasnya.

Lebih jauh, Dr. Jakfar mengingatkan bahwa tekanan inflasi yang muncul akibat kenaikan BBM non-subsidi dapat berujung pada melemahnya konsumsi rumah tangga, terutama pada kelompok masyarakat menengah bawah dan rentan miskin.

Kelompok ini dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang terbatas karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Ketika harga energi dan pangan naik secara bersamaan, masyarakat akan memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok. Belanja pendidikan, kesehatan, pakaian hingga hiburan biasanya menjadi pos yang pertama kali dikurangi,” ungkap Jakfar 

Baca Juga :  Musda II ITJI, Kontributor TV One Veros Afif Terpilih Aklamasi Ketua ITJI Korda Madura Periode 2024 - 2027

Jika kondisi tersebut berlangsung dalam jangka panjang, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) diperkirakan menjadi pihak yang paling awal merasakan dampaknya melalui penurunan transaksi dan melemahnya perputaran uang di daerah.

Dr. Jakfar menilai wilayah Madura memiliki tingkat kerentanan yang relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah perkotaan besar di Jawa Timur. Hal itu dipengaruhi oleh dominasi sektor informal sebagai sumber mata pencaharian masyarakat serta tingginya ketergantungan pasokan bahan pokok dari luar pulau.

“Sebagian besar masyarakat Madura bekerja di sektor informal dengan pendapatan yang tidak tetap. Saat harga kebutuhan pokok naik, tekanan terhadap daya beli mereka akan terasa jauh lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan tetap,” tuturnya.

Selain itu, sejumlah komoditas pangan yang beredar di pasar Madura masih dipasok dari daerah lain seperti Surabaya, Sidoarjo, dan Pasuruan. Kondisi tersebut membuat biaya distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

Menghadapi potensi inflasi yang semakin meningkat, Dr. Jakfar meminta pemerintah daerah bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk tidak hanya mengandalkan operasi pasar sebagai solusi utama.

Baca Juga :  SMAN 1 Sumenep Wisuda 59 Hafiz, Kepsek Janjikan Golden Ticket Kedokteran Jika Hafal 15 Juz

Menurutnya, upaya pengendalian harga harus menyentuh akar persoalan, terutama terkait efisiensi distribusi dan penguatan rantai pasok pangan.

“Operasi pasar memang penting untuk meredam gejolak harga dalam jangka pendek. Namun yang lebih dibutuhkan adalah perbaikan sistem distribusi, pemangkasan rantai pasok yang terlalu panjang, serta dukungan terhadap transportasi logistik bahan pokok,” tambah Jakfar.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Dr. Jakfar juga mengingatkan adanya ancaman yang lebih serius apabila kenaikan harga pangan berlangsung terus-menerus tanpa pengendalian yang efektif.

Menurutnya, daerah berpotensi menghadapi kondisi stagflasi, yakni situasi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

“Jika kenaikan harga komoditas pokok terus berlanjut tanpa kendali, kita berpotensi menghadapi stagflasi lokal yang dapat memperburuk kemiskinan, meningkatkan risiko stunting, serta memperlebar ketimpangan ekonomi di masyarakat,” pungkasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah cepat pemerintah dalam menjaga stabilitas harga, memperkuat distribusi pangan, dan melindungi daya beli masyarakat. Upaya tersebut dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah, khususnya di Madura dan kawasan Tapal Kuda Jawa Timur, di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh tantangan. (REDJAVA****)

Follow WhatsApp Channel javanetwork.co.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

BERITA TERKAIT

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi
Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini
Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD
PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni
Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep
154 Warga Binaan Rutan Sumenep Terima Remisi HUT ke-81 RI, 2 Langsung Bebas
75 Paskibraka Sumenep Sukses Kawal HUT ke-81 RI, Honor Cair dan Evaluasi Besar Disiapkan
Camat Pragaan Pimpin Upacara HUT ke-81 RI, Kobarkan Nasionalisme dan Perkuat Kebersamaan Warga

BERITA TERKAIT

Rabu, 16 September 2026 - 08:22 WIB

Kakanwil Ditjenpas Jatim Kusnali Sambangi Rutan Sumenep, Kejar Paket hingga Batik Catra Tuai Apresiasi

Minggu, 13 September 2026 - 23:59 WIB

Disdik Sumenep Dorong Dongeng Jadi Senjata Pendidikan Karakter Anak Sejak Dini

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

Bersama Kita Bisa Tasyakuran HUT RI ke-81, Pesan Kuat Bapenda Sumenep di Tengah Perjuangan Kejar Target PAD

Senin, 17 Agustus 2026 - 23:59 WIB

PK PMII STAIM Bagikan Merah Putih, Kobarkan Nasionalisme: Kemerdekaan Tak Boleh Berhenti di Seremoni

Senin, 17 Agustus 2026 - 22:32 WIB

Personel Yonif TP 931/KJ Hadirkan Semangat Kemerdekaan di MI Miftahun Najah Sumenep

BERITA TERBARU