JAVANETWORK.CO.ID.SUMENEP – Kabar duka menyelimuti masyarakat Madura, khususnya Kabupaten Sumenep. Ulama kharismatik sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan, KH Abus Suyuf Ibnu Abdillah (KH Moh. Sa’id Abdullah), dikabarkan wafat pada Selasa (9/6/2026).
Kepergian sosok yang dikenal luas sebagai pendidik, pembimbing umat, dan tokoh agama yang konsisten menanamkan nilai-nilai keislaman tersebut meninggalkan duka mendalam bagi berbagai kalangan, mulai dari santri, alumni, tokoh masyarakat hingga lembaga pemerintahan dan dunia usaha di Kabupaten Sumenep.
Sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa, keluarga besar PT BPRS Bhakti Sumekar (Perseroda) turut menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya ulama yang selama hidupnya dikenal sederhana dan penuh keteladanan tersebut.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Direktur Utama PT BPRS Bhakti Sumekar, Hairil Fajar, menyampaikan bahwa wafatnya KH Abus Suyuf Ibnu Abdillah merupakan kehilangan besar bagi masyarakat Sumenep dan Madura secara umum.
“Beliau bukan hanya seorang pengasuh pesantren, tetapi juga figur yang menjadi panutan umat. Keteladanan, kesederhanaan, serta dedikasi beliau dalam membimbing masyarakat dan mencetak generasi berakhlak mulia akan selalu menjadi inspirasi bagi kita semua,” kata Hairil Fajar, Rabu (10/06/2026).
Menurutnya, kontribusi KH Abus Suyuf dalam dunia pendidikan Islam dan dakwah telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan kehidupan keagamaan di Kabupaten Sumenep.
“Atas nama keluarga besar PT BPRS Bhakti Sumekar, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan,” tambahnya.
Selama ini, KH Abus Suyuf dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki pengaruh besar dalam membina masyarakat melalui jalur pendidikan pesantren. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar Pangarangan menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang melahirkan banyak generasi penerus bangsa dengan bekal ilmu agama dan akhlak yang kuat.
Kepergian beliau menjadi kehilangan yang dirasakan tidak hanya oleh keluarga besar pondok pesantren, tetapi juga oleh masyarakat luas yang selama ini menjadikan nasihat dan keteladanan beliau sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Doa dan ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai kalangan. Masyarakat berharap segala amal kebaikan yang telah ditorehkan almarhum selama hidupnya menjadi amal jariyah yang terus mengalir dan memberikan manfaat bagi umat.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan guru, ulama, dan teladan umat. Jasa serta pengabdianmu akan selalu dikenang sepanjang masa.” (REDJAVA****)








