Saat Darah Lebih Kental dari Rantau: Makna Filosofis Tradisi Toron

Kamis, 16 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Sumenep

Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Sumenep

Mata’ lanjheng kek pekkeren
Jheng bejhengan esanggu dikah
Mole arantau dari penggihiran
Moghe salamet sampe’ e dhishah

JAVANETWORK.CO.ID.ARTIKEL – Toron adalah tradisi mudik atau kembalinya masyarakat Madura putra pulang ke kampung halaman dari perantauan, yang sangat kental dengan nilai kekeluargaan dan religiusitas. Tradisi ini umumnya terjadi saat Idul Fitri, namun mencapai puncaknya pada Idul Adha (Lebaran Haji, Tellasan Rajhe) maupun Maulid Nabi. Secara harfiah, toron berarti perantau yang kembali ke tanah kelahiran. Istilah ini bahkan sudah dikenal jauh sebelum abad ke-19, menjadi bukti sejarah panjang migrasi masyarakat Madura yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Majapahit.

Secara filosofis, toron memiliki istilah yang berlawanan, yaitu onggha atau naik. Jika onggha bermakna merantau, maka toron adalah proses kembali ke kampung halaman. Tradisi ini merupakan warisan turun-temurun di kalangan etnis Madura yang merantau dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Pulau Madura.

Budaya toron tidak hanya dilakukan oleh kalangan tertentu, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Momentum ini biasanya terjadi pada hari-hari besar keagamaan maupun saat ada acara keluarga di kampung halaman, seperti pernikahan, kematian, umrah, maupun haji. Para perantau pulang bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi juga untuk menghadiri acara-acara penting yang membutuhkan kehadiran langsung orang yang memiliki kepentingan di tanah asal.

Bagi masyarakat Madura, pulang kampung atau toron bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan jiwa yang mengikat kembali hubungan dengan leluhur, keluarga, dan tanah kelahiran. Di sinilah letak makna mendalamnya: bahwa ikatan darah dan tanah air jauh lebih kuat daripada segala hal yang didapat di perantauan.

Penulis : Fathor Arifin.,M.Pd., Kamis (16/04/2026)

Berita Terkait

Peredaran Narkotika di Kepulauan Sumenep Kian Mengkhawatirkan, PDM: Alarm Serius Penegakan Hukum
Kelahiran Putri Pertama Bupati Sumenep Banjir Ucapan, Kebahagiaan Menyebar di Lingkungan Pemkab dan Masyarakat
Cerita Unik dan Menarik Ketua DPRD Sumenep: Retret yang Mengubah Segalanya
Respon Cepat Damkar Sumenep: Evakuasi Sarang Tawon Berbahaya dan Cegah Kebakaran Meluas
Gowes Bareng BKPSDM Sumenep, Kebersamaan Pegawai Makin Solid
Detik-Detik Direktur RSUDMA Sumenep Tinjau UGD, Pasien Tak Tertolong, Direktur Sampaikan Ini
Retreat Kepemimpinan di Akmil Jadi Momentum Penyatuan Visi Pembangunan Daerah Ketua DPRD Sumenep
Disdik Sumenep Matangkan Pemetaan Jabatan Guru, Bidang GTK Gandeng BKPSDM dan Bagian Organisasi

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 23:59 WIB

Peredaran Narkotika di Kepulauan Sumenep Kian Mengkhawatirkan, PDM: Alarm Serius Penegakan Hukum

Sabtu, 18 April 2026 - 21:54 WIB

Kelahiran Putri Pertama Bupati Sumenep Banjir Ucapan, Kebahagiaan Menyebar di Lingkungan Pemkab dan Masyarakat

Sabtu, 18 April 2026 - 19:54 WIB

Cerita Unik dan Menarik Ketua DPRD Sumenep: Retret yang Mengubah Segalanya

Sabtu, 18 April 2026 - 18:01 WIB

Respon Cepat Damkar Sumenep: Evakuasi Sarang Tawon Berbahaya dan Cegah Kebakaran Meluas

Sabtu, 18 April 2026 - 15:55 WIB

Gowes Bareng BKPSDM Sumenep, Kebersamaan Pegawai Makin Solid

Berita Terbaru

Kepala BKPSDM Sumenep, Ir. H. Benny Irawan

Birokrasi

Gowes Bareng BKPSDM Sumenep, Kebersamaan Pegawai Makin Solid

Sabtu, 18 Apr 2026 - 15:55 WIB